Krisis iklim seringkali diberitakan seperti pengumuman bahwa kiamat sudah dekat. Kenyataanya memang demikian, krisis iklim membawa bumi semakin rusak dan rentan ditinggali. Suhu semakin memanas, kutub es mencair, kekeringan melanda, hingga badai topan menerjang. 

Tapi pemberitaan krisis iklim tak selamanya harus berkutat pada situasi seram dan muram, atau doom and gloom. Meskipun mengkomunikasikan bencana sebagai dampak krisis iklim krusial, pemberitaan dapat membantu agar warga percaya bahwa mereka berdaya, agar berupaya menghindari kerusakan lebih jauh.

Sayangnya, liputan yang fokus pada solusi dan tindakan nyata berbagai komunitas warga untuk mitigasi krisis iklim masih cukup jarang diberitakan. Penelitian Media Matters 2018 menyebutkan hanya 1 dari 5 segmen berita televisi di Amerika soal krisis iklim yang menyebutkan solusi untuk mengatasinya. Padahal liputan solusi dari praktik baik penanganan krisis iklim mampu mendorong inisiatif serupa di komunitas warga lain.

Liputan solusi krisis iklim juga lebih diterima pembaca daripada liputan bernada “kiamat sudah dekat.” Penelitian Reuters Insitute menyebut sebanyak 50% respondennya menghindari “berita buruk” karena berpengaruh terhadap psikisnya, termasuk berita krisis iklim. Sehingga penting untuk mengemas solusi pada berita krisis iklim agar publik menyadari dan mampu membangun langkah konkret mengatasi krisis iklim.

 

Jurnalisme Solusi Krisis Iklim

Umumnya krisis iklim diberitakan karena nilai negativitas—seperti faktor negatif gaya hidup, dampak buruk,  hingga ancaman di masa depan—dan konflik di dalamnya. Pemberitaan seperti itu telah jadi model utama untuk isu krisis iklim. Penelitian Andreas Schuck menunjukkan pemberitaan seperti ini punya dampak kontradiktif. Meskipun pemberitaan ini dapat meningkatkan kesadaran, ia dapat menjauhkan partisipasi publik untuk terlibat pada gerakan iklim. Sekalipun pemberitaan model tersebut dilengkapi dengan penjelasan memadai dari ilmuan iklim.

Selain kompleksitas masalah dalam krisis iklim yang tak mudah dijelaskan ke awam, kenyataanya krisis iklim belum secara eksistensial berhadapan langsung dengan keseharian seluruh orang. Indikasi kehadirannya memang ada lewat kekeringan, banjir, hingga topan, tapi tak semua orang mengalaminya. Sehingga menurut Schuck perlu terobosan komunikasi yang tepat untuk mengangkat isu ini di media, jurnalisme solusi dinilai yang paling tepat.

Penelitian Schuck menyebut berita yang menghubungkan masalah iklim pada solusi yang membawa potensi penanganan iklim meningkatkan “efikasi diri” audiens – atau kepercayaan bahwa dirinya mampu menciptakan perubahan. Dibanding bentuk emosi kemarahan karena penonjolan efek negatif krisis iklim, efikasi dari penonjolan solusi lebih mempengaruhi audiens untuk mau terlibat. Selain itu, berita dengan solusi iklim lebih diminati pembaca dibanding yang hanya mengabarkan dampak buruk krisis iklim.

Model jurnalisme solusi memang masih jarang digunakan, termasuk untuk isu lain. Pasalnya, jurnalisme solusi tidak cukup hanya dengan menempatkan solusi pada pemberitaan suatu masalah. Salah-salah, praktik penempatan solusi pada pemberitaan hanya berakhir jadi glorifikasi individu sebagai aktor penyelesaian suatu masalah dan mengesampingkan akar masalahnya.

Untuk itu, David Bornstein pendiri Solutions Journalism Network memberikan dua syarat mutlak sebagai pendekatan jurnalisme solusi. Pertama, sebuah produk jurnalisme solusi mampu mengidentifikasi permasalahan dengan baik dan menggali gagasan yang berpotensi menjadi solusi permasalahan tersebut. Kedua, karya tersebut harus mengartikulasikan pengalaman orang-orang yang telah melihat solusi tersebut beroperasi, serta menunjukkan bukti dan batasan-batasan terhadap solusi tersebut sesuai konteksnya.

 

Memahami Solusi Lewat Narasi

Umumnya jurnalisme  solusi dikemas dalam bentuk cerita. Pasalnya, dalam tema jurnalisme solusi memungkinkan penceritaan melalui latar belakang masalah, aktor penggerak, dan konteks solusi yang dibangun dalam mengatasi masalah. Pada tema krisis iklim di Indonesia, contohnya ada Vice Indonesia yang menceritakan soal sekolah pangan di daerah terlanda kekeringan dan CNN Indonesia dengan cerita konservasi gunung yang mengalami krisis air.

Meskipun keduanya menggunakan medium penceritaan yang berbeda—Vice dengan teks dan CNN dengan video—terdapat unsur penceritaan yang sama. Yaitu adanya tokoh dengan karakterisasinya, alur cerita dengan plotnya, dan konteks yang meliputinya berupa waktu dan tempat yang konkrit. 

Bentuk penceritaan seperti itu dalam analisis Mithra Moezzi, dkk untuk tema krisis iklim disebutkan lebih efektif memberikan pemahaman pada audiens. Moezzi menyebut terdapat tiga faktor yang menjadikan model komunikasi penceritaan krisis iklim efektif mendorong keterlibatan audiens. 

Pertama, penceritaan memberikan jenis bukti yang berbeda. Lantaran cerita memberikan materi yang berbeda dari bentuk data tradisional lainnya yang digunakan dalam krisis iklim. Perbedan tersebut berupa penekanan hingga sudut pandang yang membawa pemahaman audiens lebih emosional dengan lebih mudah menghubungkan data dengan kondisi dan relasi sosial di sekitar audiens.

Kedua, pencerita memberikan perspektif yang berbeda. Solusi yang dihadirkan dalam penceritaan memungkinkan audiens menangkap gagasan setingkat lebih maju, bukan sekedar percaya atau tidak tapi mungkinkah solusi tersebut diterapkannya. Konteks yang dihadirkan cerita juga membuka ruang berpikir audiens untuk lebih kreatif dalam mengatasi krisis iklim sesuai lingkupnya.

Ketiga, penceritaan menyediakan perangkat yang berbeda. Setiap cerita dapat menghubungkan pemangku kepentingan yang beragam dan mendorong bentuk kolaborasi dan tindakan kolektif yang imajinatif. Dalam cerita memberikan bentuk keterlibatan dan mengakomodasi adanya forum untuk saling belajar bersama, yang mana tak perlu jadi ilmuwan iklim untuk membicarakan krisis iklim. Sederhananya, cerita setiap orang soal pengalamannya terhadap krisis iklim sama bermaknanya untuk turut berpartisipasi.

 

Dari Solusi Membangun Dialog

Di era pasca-kebenaran, perdebatan tanpa henti soal krisis iklim tak akan membawa perubahan, yang kita butuhkan adalah dialog yang sehat. Berbagai solusi konkrit krisis iklim yang telah diuji coba di komunitas warga lain bisa jadi jembatan obrolan untuk membangun langkah konkrit bagi komunitas warga lainnya. Untuk itu media perlu mengabarkannya.

Begitu juga dengan pemerintah, selain bersetia dan tegas pada mitigasi krisis iklim yang tepat juga penting membangun komunikasi iklim yang mendorong inisiatif solusi bersama. Dari pada terus memungkiri fakta-fakta kerusakan lingkungan oleh dan karena krisis iklim, lebih baik menerimanya dan bersama-sama mencari solusinya, dialog yang tepat jadi langkah awal yang baik.

Berbagai contoh solusi warga mengatasi masalah iklim telah terbukti berhasil, setidaknya untuk komunitasnya sendiri. Hal itu jadi modal penting pemerintah untuk komunikasi iklim yang lebih efektif. Lantaran semakin banyak yang terlibat, semakin mudah mengatasinya. Tak mungkin juga komunitas warga membangun solusi tunggal untuk krisis iklim tanpa peran serta pemerintah. Juga jangan memunggungi solusi iklim dari praktik baik komunitas warga.

 

Artikel ini merupakan bagian dari program Remotivi untuk menerbitkan seri tulisan yang fokus mengupas tentang peran media dan anak muda dalam krisis perubahan iklim. 

 

Baca tulisan lainnya dalam seri ini:

Krisis Iklim di Depan Mata, Bagaimana Media Memberitakannya?

Bagaimana Misinformasi Memperparah Krisis Iklim

Mengapa Anak Muda Lantang Bersuara Soal Krisis Iklim?