Kematian Emmeril Kahn Mumtadz atau Eril, putra sulung Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menjadi salah satu berita yang mendapat perhatian publik di minggu terakhir bulan Mei hingga awal Juni 2022 lalu. Eril dikabarkan hilang saat berenang di Sungai Aare, Swiss. Pencarian dilakukan selama dua pekan sampai akhirnya jasad Eril ditemukan oleh seorang guru SD dengan tubuh yang masih utuh. Histeria masyarakat yang mengikuti berita itu memuncak saat pemakaman Eril. Lautan manusia yang terdiri dari ratusan ribu warga berjejer mengantar jenazah Eril ke tempat persemayaman terakhir di Cimaung, Bandung.

Usai peristiwa itu, Mata Najwa membuat video dokumenter yang kemudian ditayangkan di YouTube berjudul “Ridwan Kamil, Atalia, dan Eril: Cinta Tak Terbilang”. Tayangan tersebut sempat menimbulkan pro-kontra. Di sisi pro, jurnalis bisa memberikan penghormatan kepada peristiwa berkabung dengan melakukan proses tatap muka, mengenal almarhum dengan lebih utuh, hingga memberi ruang bagi yang ditinggalkan untuk bercerita. Di sisi kontra, praktik jurnalisme ini acap kali bermasalah dari segi etika serta kurang menyertakan penghargaan atas situasi perkabungan hingga jebakan menjual kesedihan. 

Produser Eksekutif Mata Najwa, Soni Triantoro, menjelaskan dalam tulisannya, praktik mewawancarai kerabat atau orang terdekat dari seseorang yang baru meninggal disebut sebagai “death knock” atau ketukan kematian.  

Death Knock dalam Jurnalisme

Dalam penelitian Duncan dan Newton (2010), death knock diartikan sebagai suatu praktik jurnalisme yang mencoba mewawancarai orang-orang yang sudah rentan terhadap situasi kematian orang terdekat. Liputan ini didasarkan pada berbagai situasi traumatis seperti setelah kecelakaan, pembunuhan, hingga korban bencana alam. Death knock dilakukan tentu dengan “mengetuk pintu” terlebih dahulu, entah itu secara implisit maupun eksplisit. 

Death knock menjadi salah satu hal yang menantang dalam karier seorang jurnalis. Ketika dihadapkan pada tragedi kematian, jurnalis akan dihadapkan pada situasi yang tak terduga dan tanpa pemberitahuan. Jurnalis umumnya memiliki tekanan sendiri dalam melakukan tugas pelaporannya mengingat ada isu hukum dan etika. Masih banyak kebingungan terkait metode seperti apa yang tepat dan efektif untuk digunakan.

Dalam prosesnya, death knock mempertemukan wartawan dengan pihak keluarga secara berhadap-hadapan. Dari sisi jurnalis, usai wawancara yang bersifat traumatis, beban sebagian besar berada pada jurnalis karena mereka bertanggung jawab membagikan keprihatinan dan pengalaman mereka. Lebih-lebih, “budaya macho” dalam newsroom (ruang berita) membuat jurnalis harus memberikan kesan tidak peka, lepas, dan terkendali. 

Di sisi lain, fenomena Eril ini menjadi bahan perbincangan karena isu kematian paling sering menjadi “sorotan media”. Di tengah sorotan semacam itu, orang yang mengalami dihadapkan pada dua hal ekstrem, kesedihan mereka sendiri dan invasi terhadap kehidupan mereka yang dilakukan oleh media. Dalam penelitian Chiara Anindya (2015) yang berjudul “Pers, Kematian, dan Sensasionalisme” disebutkan industri media di Indonesia menggunakan berita terkait kematian sebagai komoditas bernilai tinggi.

Berita kematian juga dianggap sebagai “media event” yang memancing komunikasi massa di mana media memberitakan suatu isu kematian dengan “performa kultural yang tinggi”. Chiara menegaskan, “[m]edia event terjadi ketika audiens menaruh minat besar pada sebuah kejadian yang dilaporkan oleh media massa.” Sialnya, pemberitaan kriminalitas semacam itu secara konsisten memuat tiga hal: misinformasi, sensasionalisme, penggambaran secara berlebihan. 

Media Tak Selalu Mengganggu Kesedihan

Peliputan death knock merupakan situasi yang sangat emosional. Kebanyakan jurnalis tidak menerima pelatihan death knock, meski ada pula pendidik jurnalisme mau mengajari calon jurnalis melakukannya. Lantaran situasi tersebut, jurnalis diharapkan mampu melakukan pendekatan dengan kepekaan tinggi. Sayangnya, kebanyakan jurnalis tidak siap. Wacana ini semakin rumit ketika kecil kemungkinan pihak perusahaan media memberikan pembekalan bagi jurnalis yang secara emosional terganggu oleh pengalaman mereka. Jurnalis lebih sering hanya mendapatkan pendidikan informal, entah instruksi dari bagian redaksi maupun nasihat dari sesama teman seprofesi. Mereka pun lebih mungkin belajar autodidak terkait etika peliputan.

Meski begitu, yang penting untuk dicatat adalah death knock menjadi praktik jurnalisme atau pengalaman yang tidak sepenuhnya negatif. Pelaporan jenis ini dapat menghasilkan liputan yang kuat dan efektif dalam menggambarkan keseluruhan seseorang, juga sebagai katalis untuk beragam aksi publik yang memperingati mereka yang telah berpulang. Pelaporan tersebut dapat memberi tahu masyarakat terkait situasi yang mungkin terjadi di luar pengalaman mereka. Hal itu juga dapat membantu seseorang yang mengalami pengalaman serupa untuk mengambil refleksi sekaligus menjadi katarsis baik buat pembaca hingga orang yang diwawancara. 

John Griffith, mantan editor surat kabar yang kehilangan anaknya dalam kecelakaan di jalan menegaskan, orang tidak dapat langsung berasumsi media mengganggu kesedihan dengan menghubungi keluarga. Dia sendiri memajang liputan-liputan terkait putranya Michael di rumah dan tamu boleh membaca detail kecelakaan tersebut serta penghormatan terakhir orang tua kepada anaknya. Dengan kata lain, keluarga tidak harus mengulangi detail rasa sakit tanpa henti. Griffith memberikan saran pada jurnalis:

“Jadi jangan ragu untuk mengetuk pintu dan bertanya. Jika keluarga tidak mau berbicara dengan Anda, Anda dapat pergi. Jika mereka mau, Anda akan membantu mereka di momen hidup kala mereka ingin tahu masyarakat luas peduli dengan mereka dan berbagi kesedihan mereka.” 

Nasihat yang lahir dari pengalaman pribadi ini dapat dijadikan panduan bagi jurnalis dalam meliput kasus serupa. Alih-alih bersikap tidak sabaran, merespons dengan reaktif, dan tidak menunjukkan kepekaan, nasihat Griffith ini dapat membuka jalan agar jurnalis lebih peka, menunjukkan simpati, melakukan manajemen emosi, percaya diri, dan mahir dalam menghadapi tantangan liputan death knock. Jurnalis harus mengaplikasikan nilai-nilai jurnalisme mereka dari menunjukkan nilai berita, mengumpulkan fakta, menilai konsekuensi potensi yang muncul serta tindakan yang harus diambil, dan berpegang pada kode etik jurnalistik. 

Bahkan, salah seorang jurnalis dengan pengalaman lima tahun dalam penelitian Newton dan Duncan mengatakan: “orang-orang tertentu sungguh ingin bercerita pada dunia jika mereka benar-benar kehilangan.” Death knock karenanya sebaiknya lebih difokuskan pada “perbuatan baik” almarhum, yang memungkinkan jurnalis melihat cerita secara lebih positif. Dengan demikian, death knock memberikan “bingkai sosial” terakhir tanpa penghakiman.

Soni Triantoro menjelaskan pula, death knock bisa menumbuhkan pengalaman positif bagi keluarga jika dilakukan dengan penuh pertimbangan. Selain itu, ia juga membantu mereka memberikan jawaban atas pertanyaan yang bertubi-tubi. Soni memerinci praktik “penuh pertimbangan” tersebut perlu dilakukan dengan tidak memaksa, tidak menanyakan perasaan narasumber, banyak mendengarkan, tidak tergesa-gesa, membantu narasumber melukiskan gambaran utuh, jurnalis diperkenankan menunjukkan emosi, hingga membuka serta menutup wawancara dengan kalimat sederhana, “terima kasih sudah percaya kepada kami.” 

Kisah dan Kematian Eril

Apa yang digambarkan Soni mungkin nampak pada tayangan Mata Najwa terkait Eril. Dalam tayangan berdurasi 53 menit tersebut terlihat secara lebih jelas gambaran diri Eril jika dibandingkan dengan berita sepenggal-sepenggal dari berbagai media. Bagaimana Eril ingin dekat dengan keluarga sebelum dia meninggal, bagaimana Eril juga sosok yang jahil dan suka cengengesan. Eril yang suka karaokean, bernyanyi lagu Dealova bersama sang nenek. Eril juga digambarkan sebagai orang yang rendah hati dan dermawan, jadi sopir pernikahan seseorang dan tidur di mana saja. Intinya, Eril adalah seorang yang delivering happiness, membawa kebahagiaan bagi siapa saja.

Najwa Shihab juga memberikan pesan tak langsungnya untuk jurnalis yang akan melakukan wawancara death knock: “Beribu orang bisa mengatakan bela sungkawa, tapi kita memang tak pernah bisa merasakan besarnya gelombang yang menghantam orang terdekat. Terhadap mereka kita hanya bisa mendengarkan, itu pegangan saya. Daftar pertanyaan yang saya susun dengan sangat hati-hati, nyaris tak terpakai. Bercerita panjang dengan sendirinya seakan tanpa putus, tanpa ingin berhenti. Mengingat detail memori-memori bersama Eril.” 

Ya, jurnalisme death knock membutuhkan narasi yang koheren dari sumber pertama secara langsung.  Sebab hal itu menjadi salah satu fungsi jurnalisme, menyatakan kebenaran secara utuh. Baik jurnalis maupun pihak yang berduka dapat merasa terluka oleh wawancara tersebut. Untuk itu, prinsip-prinsip etika, kejujuran, presisi, dan perhatian menjadi sangat penting. Jurnalis yang melakukan death knock bisa menjadi jawaban untuk menanggapi kebutuhan audiens untuk terhubung dengan yang berduka dan sebaliknya. Death knock memungkinkan orang berada dalam “kebersamaan dan kesamaan” untuk menyadari bagaimana mereka saling terikat dalam menghindari atau menghadapi situasi yang sama.