Anak-anak hari ini merupakan generasi digital yang dikelilingi oleh teknologi, termasuk pada wilayah tontonan. Kartun dan permainan menjadi yang banyak ditonton. Tak ayal, animasi seperti Cars, Tayo, Upin & Ipin, My Little Pony, BabyBus, Cocomelon, dan sebangsanya memiliki jumlah penonton dan pengikut jutaan. Aneka tontonan anak dengan berbagai daya pikatnya itu membanjiri YouTube dan memberikan dopamin pada anak. Namun, terdapat kasus tertentu di mana anak justru terjebak Elsagate (Gerbang Elsa). Elsagate merujuk pada tayangan video YouTube yang dikategorikan ramah anak tetapi tidak ramah anak. Tontonan anak yang awalnya wajar-wajar saja berubah menjadi tidak wajar karena berisi konten yang tidak pantas.

Kasus Elsagate terjadi saat pengasuh seperti orang tua atau kakak meninggalkan bayi atau balita dengan video-video tontonan YouTube. Fenomena ini perlu menjadi perhatian, selain karena masih sedikitnya literatur yang menunjang, upaya mengklasifikasikan suatu video sebagai Elsagate atau tidak menjadi tantangan tersendiri. Lebih bahaya lagi, Elsagate dapat meninggalkan trauma bagi anak. 

Sejarah dan Pengertian Elsagate

Dalam film animasi Frozen yang dirilis Disney pada tahun 2013, Princess Elsa dari Kerajaan Arendelle menjadi tokoh utama. Elsa memiliki karakter yang anggun, pendiam, tekun, dan mempunyai kekuatan ajaib. Di balik kepribadiannya yang baik tersebut, Elsa memiliki ketakutan karena bisa membuat es dan salju. Dia juga dihantui oleh perasaan was-was karena kemampuan ajaibnya nyaris membunuh adiknya, Anna. 

Dari sosok Elsa inilah, istilah Elsagate muncul. Istilah ini terdiri dari dua kata, “Elsa” dan sufiks “gate”. Elsa merujuk pada tokoh Elsa, sementara gate merujuk pada skandal seperti skandal Watergate, Celebgate, Pizzagate, dan lain-lain. Elsagate mulai muncul di YouTube sejak 25 Mei 2013 ketika kanal orang Korea Leehosook mengunggah “finger family song”. Video ini memperlihatkan seorang anak yang menyanyikan lagu tentang keluarga dengan jari-jarinya. Setiap jari mewakili satu orang keluarga inti, dari ayah, ibu, kakak, dan adik.

Dalam artikel jurnal Akari Ishikawa, Edson Bollis, dan Sandra Avila berjudul “Combating the Elsagate Phenomenon”, Elsagate didefinisikan sebagai fenomena yang menampilkan tokoh  tontonan anak secara mengganggu. Adegan-adegan mengganggu tersebut seperti menyakiti orang lain, mencuri alkohol, minum dari toilet, memakan kotoran manusia, meminum air pipis, mengoles feses ke wajah, memperlihatkan darah, menggunakan senjata, hingga melakukan perkosaan dan kekerasan.

Jika dirumuskan, ciri-ciri tontonan Elsagate antara lain: (1) Kartun atau karakter anak-anak digunakan sebagai sarana penyampai pesan konten dewasa yang tidak layak; (2) Berisi komentar-komentar yang tidak senonoh, juga “humor-humor toilet”; (3) Diproduksi oleh pihak atau studio yang tidak jelas dengan mencomot konten secara ilegal dari studio besar; (4) Kualitas video dan audio yang rendah atau kualitas animasi digital yang kasar; (5) Berisi karakter, kiasan, dan kata kunci populer yang saling digabungkan.

Penulis dan seniman James Bridle dalam sebuah tayangan di YouTube menunjukkan betapa banyaknya video anak-anak yang menjadi konsumsi balita. Dalam tayangan itu dicontohkan video berjudul “Cars 2 Silver Lighting McQueen Racer Surprises Eggs Disney Pixar Zaini Silver Racers by ToyCollector”  yang ditonton sebanyak 30 juta penonton. Bridle menerangkan, akan ada 10 juta video lain yang seperti “surprise egg”, dan setiap hari tayangan akan diunggah. Tontonan seperti itu akan banyak sekali ditemui di YouTube yang pada akhirnya merujuk ke Elsagate. Bridle mencontohkan tayangan prank Elsagate, semisal awalnya sang anak menonton Mickey Mouse, setelah klik beberapa kali, tayangan berubah menjadi konten seksual—menjadi tayangan Mickey Mouse yang melakukan masturbasi. 

Motif mengapa video Elsagate dibuat masih teka-teki. Bahkan siapa yang membuat menjadi pertanyaan—apakah orang, robot, bot, atau yang lainnya. Ada teori konspirasi, video Elsagate dibuat agar para pengidap pedofilia bisa “menjaga” anak-anak untuk berada dalam kendali mereka. Teori lain yang berkembang adalah Elsagate merupakan komoditas siber untuk mengeruk pendapatan dari iklan. Pasalnya, konten anak-anak merupakan dagangan yang cukup komersial dan hal ini didukung oleh logika platform YouTube. Dari sini, ada pemain-pemain yang melihat celah dan memburu cuan dengan memainkan versi sesat tokoh tayangan anak. 

Tentu, algoritma memainkan perannya. Ketika menonton video anak di YouTube, algoritma akan menggiring orang tua pada kartun-kartun lain yang disarankan. YouTube menerapkan algoritma yang terkadang disalahgunakan oleh pihak tertentu untuk meretas otak anak-anak. Setelah menekan tombol “next” atau menyalakan “autoplay” beberapa kali, jebakan Elsagate menghadang.

Elsagate mendorong adanya kepanikan moral terkait apakah orang tua dapat mempercayai platform streaming video untuk memberikan konten pada anak-anaknya, terlebih dengan semakin maraknya konten-konten yang dikategorikan tidak senonoh bagi anak-anak. Sebagian orang tua juga melakukan pelaporan, meski kanal-kanal seperti ini masih bermunculan. Elsagate juga menyebabkan kecemasan budaya hingga menimbulkan fobia pada anak yang mengemuka dalam tindakannya sehari-hari dan dampaknya di masa depan. Misalnya, anak takut akan kartun yang dia tonton, anak juga takut gelap, hingga sang anak berpotensi menirukan adegan video yang dilihatnya dari tontonan Elsagate.

Potensi YouTube sebagai Media Belajar

Sebenarnya, menonton kartun dapat berguna dari segi perkembangan intelektual, sosial, dan emosional anak. YouTube tidak selamanya berbahaya dan identik dengan Elsagate, melainkan juga mendukung pembelajaran anak. YouTube memiliki potensi memperkuat pendidikan karakter sebagaimana yang diteliti Imroatun dkk. (2021). YouTube menjadi media mempermudah pembelajaran bagi anak-anak. Selain itu, YouTube memiliki beragam informasi yang baik untuk mengembangkan karakter anak. YouTube sendiri menyatakan bahwa konten pendidikan menjadi salah satu fokus utama yang dikembangkan secara serius.

Berdasarkan studi Neumann dan Herodotou (2020), ada empat prinsip merancang dan memilih konten YouTube bagi anak: kesesuaian dengan usia, kualitas konten, fitur desain, dan tujuan pembelajaran. Program mendidik seperti ditunjukkan oleh tayangan Sesame Street mendukung keterampilan literasi di masa awal-awal. Episode “Learning About Letters” tayangan ini mempelajari bagaimana menyatakan huruf secara oral yang akan didukung dengan lagu dan gambar serta animasi. 

Orang tua sangat berperan dalam menentukan tontonan bagi anak. Anak yang kecanduan suatu platform patut menjadi alarm bagi orang tua. Orang tua perlu berperan menyuguhkan tontonan yang relevan, melakukan pendampingan, memperhatikan, membatasi waktu menonton, hingga menumbuhkan pemahaman kritis anak-anak terkait tontonan. Dengan demikian, anak bisa memilah dan memanfaatkan tayangan YouTube secara sehat dan proporsional.