Media massa baik cetak maupun elektronik memiliki tanggung jawab dalam meningkatnya ketidakpercayaan masyarakat terhadap isu perubahan iklim. Sebagian besar masyarakat masih skeptis dengan isu perubahan iklim yang disuguhkan oleh media. Hal ini tidak sesuai dengan konsensus ilmiah para ilmuwan terkait pentingnya isu perubahan iklim yang berpengaruh langsung terhadap fisik, emosi, dan kesehatan mental manusia. 

Salah satu kecenderungan media yang menyebabkan ini adalah “bothsideism” atau keseimbangan palsu. Bothsideism merupakan kondisi ketika wartawan berusaha menyajikan dua sisi narasumber yang bertentangan dari sebuah isu. Kecenderungan ini bermasalah karena menyebabkan narasumber yang paling kredibel nampak hanya mewakili satu sisi. Bothsideism dapat merusak kemampuan publik dalam membedakan fakta dan fiksi serta menggiring pembaca meragukan konsensus saintifik.

Dalam liputan terkait perubahan iklim, hal ini terlihat pada bagaimana media mengabadikan klaim-klaim “ilmiah dan non-ilmiah” secara bersamaan. Kedua pandangan tersebut seolah-olah punya validitas dan kredensial yang sama, padahal pandangan non-ilmiah yang diangkat dapat menyebabkan misinformasi dan mempolarisasi kepercayaan pembaca.

Penelitian terbaru dari Universitas Northwestern menunjukkan bagaimana dalam liputan terkait iklim, bothsideism merusak sains dan mengurangi nilai sains. David Rapp sang peneliti menyebut, di saat dunia harus mengambil tindakan segera untuk memperlambat pemanasan global, media masih memberi “udara” atau “ruang” pada narasumber-narasumber yang tidak kredibel, irelevan, dan tak dapat dipercaya. Hal ini membuat masalah iklim jadi tampak kurang mengerikan daripada yang sebenarnya dan bahkan membuat orang bertanya, apakah isu perubahan iklim perlu ditanggapi dengan serius? 

“Ketika kedua sisi argumen disajikan, orang cenderung memiliki perkiraan yang lebih rendah tentang konsensus ilmiah, dan tampaknya orang cenderung tidak percaya bahwa perubahan iklim adalah sesuatu yang perlu dikhawatirkan,” kata Rapp yang juga psikolog dan profesor di Northwestern’s School of Education and Social Policy (SESP).

Ada tiga masalah yang dimunculkan oleh bothsideism terhadap isu perubahan iklim: (1) keraguan apakah ada konsensus, (2) kebingungan tentang apa yang sesungguhnya benar, (3) kecenderungan untuk mengambil pilihan yang menyenangkan. 

Studi Rapp bersama Megan menunjukkan seseorang lebih mudah mengingat apa yang pernah dia dengar sebelumnya yang terasa benar, dan cenderung tidak mengingat apa yang tak mudah dikatakan, seperti perkataan ilmuwan. Dengan kata lain, kebanyakan orang lebih memilih dan mempercayai pandangan sensasional daripada ilmiah. Di sisi lain, otak manusia lebih mengandalkan emosi dan afeksi ketika mengambil keputusan, termasuk terkait krisis iklim yang dianggap tak bersangkut paut secara langsung dengan dirinya.

Monbiot vs Plimer

Kasus keseimbangan palsu juga terjadi pada perdebatan publik Monbiot vs Plimer. George Monbiot kolumnis isu lingkungan The Guardians menjelaskan ketidaksetujuannya dengan argumen yang dibangun Ian Plimer dalam bukunya berjudul Heaven and Earth: Global Warming, the Missing Science (2009). Plimer adalah profesor geologi pertambangan dan ilmuwan semi-iklim dari Australia. Monbiot mengkritik keras penulis dan buku karena menghadirkan banyak kekeliruan membahayakan. Perdebatan keduanya memuncak saat program Lateline ABC dari Australian Broadcasting Corporation memberi keduanya ruang untuk berdebat. Program berita televisi Australia yang menyediakan konten original terkait jurnalisme dan investigasi itu menggelar debat Pilmer dan Monbiot pada 15 Desember 2009.

Perdebatan ini ditulis dengan serius oleh Angi Buettner dalam tulisan yang terbit di jurnal Media Peripheries. Buettner menjelaskan, Monbiot mengkritik buku Plimer yang berisi penolakan terhadap perubahan iklim dan menyatakan pemanasan global hanyalah mitos. Plimer berasumsi seluruh ilmu iklim internasional, politik, dan media bersatu untuk melakukan trik tipuan hebat perubahan iklim. Dia juga berargumen perubahan iklim tak berdasar sains, bagian dari politik agama hijau, konspirasi komunis, serta tidak berdasar konsensus ilmiah. Perubahan iklim tak didorong oleh manusia melainkan faktor planet dan galaksi. Dia mengecilkan masalah dengan menganggap perubahan iklim hanya sebatas fenomena alam saja, sehingga kita tak harus khawatir dampak lingkungan yang dihasilkan industri dan tindakan miliaran manusia.

Sialnya, buku itu segera terjual habis dan laris manis selama berbulan-bulan. Karya itu mendapat perhatian dari politisi dan media internasional serta memberi pengaruh luas serta berkepanjangan. Belakangan, para ilmuwan menegaskan karya tersebut memiliki berbagai kecacatan logika yang membahayakan: adanya kesalahan ilmiah, kurangnya kualitas argumen, bertele-tele, berulang-ulang, mendiskreditkan lingkungan, menyerang pendukung pandangan perubahan iklim secara individual, hingga hubungan penulis dengan industri pertambangan. Plimer dianggap tidak berusaha memberikan bukti apa pun untuk klaimnya. Dia nyaman menyatakan apa pun yang dia anggap sebagai “fakta” dan melapisinya dengan ribuan catatan kaki.

Meski demikian, buku Plimer masih disambut antusias oleh para penyangkal perubahan iklim. Dengan modal sosial besar, suara yang banyak didengar, penghargaan yang banyak, dan tergabung dengan beberapa organisasi prestisius, Plimer menjadi sosok yang dipandang oleh kalangan ini. Plimer pun lantas  menjadi selebritas media yang diikutsertakan dalam debat-debat bebas. Kendati dianggap omong kosong, buku Plimer menjadi dasar dari ide-ide penyangkal perubahan iklim yang marak di ranah blog. 

Kasus Plimer juga menunjukkan industri media yang terobsesi menyajikan tontonan sensasional dalam pemberitaan lingkungan. Duel antara Monbiot vs Plimer melanggengkan logika ini dan menimbulkan pertanyaan terkait tanggung jawab media sebagai alat komunikasi terkait lingkungan. Menghadirkan dua poin yang berlawanan dalam bentuk dramatis dapat semakin mengaburkan pesan perubahan iklim yang ilmiah.

Menangkis Bahaya Bothsideism

Kasus keseimbangan palsu ini terjadi hampir merata di seluruh dunia, melibatkan media cetak dan daring terkemuka di India, AS, Inggris, Jerman, dan Swiss. Mengutip suara-suara kontra yang salah kaprah masih menjadi tradisi dan menimbulkan penolakan terhadap perubahan iklim serta sukses memelihara kebingungan publik. Pelaku media perlu mendefinisikan ulang “cover both side” seperti apa yang akan diterapkan. Media mestinya mampu melampaui keseimbangan palsu.

Untuk memutus siklus keseimbangan palsu tersebut, Rapp dan Imundo memberikan satu strategi yang bisa diadopsi redaksi guna membantu pembaca. Redaksi perlu menebalkan argumen dan konsensus para ahli tentang perubahan iklim dan mengurangi bobot argumen pihak penyangkal perubahan iklim. Di sisi lain, meminimalisir perdebatan di media yang menyediakan ruang bagi orang-orang serupa Plimer juga perlu dilakukan. Perdebatan terbuka dan nirfaedah tak perlu dilaksanakan. 

 Jurnalis Liz Spayd dalam tulisannya di The New York Times menyatakan masalah dari bothsideism adalah doktrin tersebut bisa menyamar sebagai pemikiran rasional. Bothsideism serupa perangkap bagi jurnalis, perlu sikap kehati-hatian agar tidak terjebak dalam perangkap tersebut. Liz mengatakan, jurnalis dapat menerapkan penilaian moral dan ideologis mereka sendiri dalam memilih narasumber. Sebelum memulai wawancara, jurnalis perlu menekankan urgensi/manfaat cerita, bukan pandangan irasional yang mendorong pada penilaian yang salah.

Mengutip Jacob Weisberg dari majalah Slate, Liz menulis, jurnalis bisa meliput narasumber yang mungkin “apel” atau “jeruk”, yang setidaknya masih “buah-buahan”, tapi tidak bisa mengganti salah satunya dengan “daging tengik” karena jelas merupakan pemilihan yang partisan dan tidak relevan. Jurnalis bisa memastikan keseimbangannya untuk menciptakan pelaporan yang mantap dan tegas. Lebih-lebih untuk isu perubahan iklim, harus ada bukti dan fakta empiris yang diungkap dalam liputan alih-alih mendorong dan memaksakan nilai-nilai sendiri dari para pihak yang salah (kontra).