Keterampilan memilih sarana yang tepat untuk berbagi masalah menuntut tingkat kedewasaan. Sebagian memilih untuk menyimpan, dan sebagian memilih untuk membagikannya pada publik pada taraf yang bisa dibilang “berlebihan”. Perilaku berbagi secara berlebihan ini disebut sebagai oversharing. Seorang oversharer bukan tidak tahu bagaimana cara menjaga privasi mereka atau merahasiakan pikiran mereka. Mereka tahu tapi memilih untuk melanggarnya.

Hoffman (2009) mengartikan oversharing sebagai “mengungkap informasi berlebihan atau tidak sesuai dengan konteks tertentu.” Sementara itu, Ben Agger (2012) mendefinisikannya sebagai “mengungkapkan lebih banyak perasaan, pendapat, dan seksualitas batin mereka [melalui layar] ketimbang secara langsung, atau bahkan melalui telepon.” Selain itu, oversharing merujuk pada perilaku membagikan ekspresi narsistis, drama, gosip, dan unggahan secara masif. Perilaku ini menjadi marak seiring sangat banyaknya kendaraan untuk melakukannya.

Secara umum, masalah oversharing berasal dari ketidakmampuan pengguna untuk secara bertanggungjawab memutuskan seberapa sering mereka berbagi dan kepada siapa mereka berbagi. Ada beberapa teori mengapa seseorang melakukan berbagi di internet. Rose (2012) dalam Akhtar (2020) melihat bahwa “kebebasan mengekspresikan diri dengan rasa aman merupakan sumber kenikmatan bagi individu”. Akhtar juga menyitir hasil jajak pendapat Ipsos, sebuah perusahaan riset pasar global yang menemukan tiga motif berbagi yakni (a) menjaga relasi sosial dengan orang lain, (b) presentasi diri, (c) hiburan dan belajar. 

Emosi pun sentral dalam berbagi karena seseorang selalu terdorong untuk mengomunikasikan emosinya dengan teman, keluarga, dan kolega. Dengan mengungkapkan emosi dan masalah pribadinya di media sosial, seseorang dapat mengumpulkan simpati dan perhatian dari pengikut. Dorongan ini semakin jelas terbukti dengan fakta orang cenderung berbagi secara intens ketika mereka sendiri. Mengunggah sesuatu di medsos dirasa dapat menurunkan kesepian.

 

Oversharing Kesehatan dan Hal-Hal Privat

Rachael Kent dalam tulisannya berjudul “Social Media and Self-tracking: Representing the ‘Health Self’” menjelaskan bagaimana penggunaan aplikasi kesehatan digital dapat berujung oversharing. Aplikasi yang disebut Kent mencakup Strava, Nike+, dan Map My Run. Selain menyediakan fitur pelacakan dan pengetahuan, aplikasi-aplikasi ini juga dapat membagikan data kesehatan. Dengan aplikasi ini, penggunanya bisa menunjukkan sudah berapa meter ia berlari atau bersepeda, rute yang sudah ditempuh, serta bukti-bukti kegiatan olahraganya lainnya.

Dalam penelitian yang mewawancarai 12 orang tersebut, ada beberapa alasan mengapa seseorang membagikan kesehatan digitalnya lewat platform. Salah satunya yang utama, membagikan data kesehatan dianggap menambah optimisme. Hal ini menunjukkan pengguna membuat pilihan aktivitas fisik yang tepat dan ada kebanggaan di sana. Pun, dengan membagikan itu, beberapa merasa termotivasi untuk terus melakukan olahraga yang menunjang kesehatan.

Namun, Kent menegaskan, perilaku ini bisa menjadi oversharing jika sensor diri tidak dikembangkan. Hal ini dikarenakan data kesehatan dijadikan bukti pencapaian oleh aplikasi-aplikasi bersangkutan dan pengguna menggunakannya untuk kompetisi serta perbandingan. Pengembang memang cenderung menerapkan gamifikasi untuk memaku penggunanya dalam ekosistem digital yang dikembangkannya. Dengan orientasi yang demikian, bukan tidak mungkin ketika pengguna berlari, mereka berhenti di tengah jalan hanya untuk secara konyol mengunggah datanya ke media sosial.

Selain data kesehatan, oversharing juga melibatkan pembeberan status hubungan asmara, screenshoot obrolan sensitif, jawaban atas pertanyaan keamanan, orientasi seksual, pembelian barang, bon belanja, slip gaji, rekening, KTP, alamat rumah, dan data-data privat lainnya. Hal-hal yang juga tak asing untuk dibagikan secara berlebihan adalah perasaan seperti sedih, marah, bahagia, mengumpat, protes yang tak tepat konteks. Ekosistem media sosial seperti Twitter memang memberikan insentif untuk pembeberan-pembeberan dengan tingginya perhatian yang digayung melaluinya. Sementara itu, semesta app store dan emoticon memfasilitasi pengguna gawai untuk lebih ekspresif daripada biasanya. 

 

Tidak Berbagi secara Berlebihan 

Yang penting untuk diingat adalah selain merupakan pencipta, pengguna media sosial sejatinya juga adalah kurator. Mengunggah sesuatu di media sosial merupakan tindakan menciptakan citra. Betapapun citra ini bukan diri yang sesungguhnya, ia tetap akan menjadi patokan publik untuk mempersepsinya. Kepuasan mencari perhatian belum tentu setimpal dengan persepsi negatif yang bisa muncul di masyarakat serta tatapan komunitas media sosial yang bakal serba mengontrolnya.

Beberapa penelitian merekomendasikan pengguna untuk menegaskan privasinya di media sosial. Pasalnya, jika tidak berhati-hati, oversharing dapat memicu potensi ancaman kriminal dan privasi. Oversharing bisa menggiring ke beberapa insiden seperti (i) melewatkan kesempatan karier, (ii) mempermalukan diri mereka sendiri, (iii) menjadi korban kriminal. Selain itu, perilaku oversharing di media sosial juga dapat memicu perundungan di dunia maya, perbandingan dengan orang lain yang menurunkan harga diri, serta tindak kriminal. Potensi ancaman itu bertambah dengan keberadaan platform yang bisa mengenali informasi lokasi seperti PleaseRobMe dan FireMe.

Para oversharer perlu melindungi batas mereka. Batas ini mengacu pada batas antara yang pribadi dan publik, yang personal dan yang umum. Penelitian Ziegeldorf dkk. merekomendasikan agar akun pengguna dibatasi sehingga hanya dapat berhubungan dengan akun-akun yang telah dikenal seperti keluarga, sahabat, kolega, atau pengguna dengan kategori dan pekerjaan yang sama. Saran terbaik lainnya agar tidak oversharing adalah dengan memilah informasi yang akan dibagi dan dengan memperhatikan kepada siapa informasi tersebut dibagikan.

Hal lain yang bisa dilakukan untuk mencegah oversharing yaitu, pertama, membuat batas yang jelas antara kehidupan personal dan kerja, serta membagikan konten pada aplikasi yang relevan. Kedua, menghormati batas orang lain seperti membagikan foto dengan permisi. Ketiga, membatasi siapa yang bisa melihat postingan. Keempat, membagikan konten secara sadar untuk mencegah terjadinya kesalahan. Jangan membagikan saat sedang merasa emosional, proses perasaan itu dulu sebelum diunggah, dan tanyakan: berapa orang yang kiranya akan melihat? Apakah ada pihak yang tersakiti? Apakah ada untungnya bagi diri dan orang lain? Kelima, jika sudah terlanjur melalukan oversharing, coba untuk menghapus konten-konten yang tak diinginkan.