Peristiwa kelam yang merenggut hingga ratusan nyawa terjadi silih berganti di berbagai belahan dunia. Bahkan, pemberitaan tersebut mewarnai lalu lintas informasi kita belakangan ini.

Mulai dari tragedi sepak bola di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Indonesia yang menewaskan 135 orang, perayaan Halloween di Itaewon, Seoul, Korea Selatan yang menewaskan 154 orang, robohnya jembatan penyebrangan di Gujarat, India Barat yang menewaskan 132 orang hingga insiden kelam teranyar gempa bumi di Cianjur. Sampai hari Sabtu 26 November 2022, sebanyak 318 orang tercatat oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meninggal dunia imbas karena tragedi terakhir.

Sebagai garda terdepan penyampai informasi kepada publik selain para pengguna media sosial (biasa dikenal: citizen journalism), keberadaan media untuk memberitakan berbagai peristiwa tersebut juga sejatinya penting. Lebih-lebih, fungsi media di masyarakat begitu vital dalam mendorong perubahan sosial.

Media hadir di tengah-tengah kita tak sekadar menyampaikan informasi yang terjadi di masyarakat, melainkan seyogianya juga membangun empati, sensitif alias tak mengulangi trauma yang telah terjadi pada korban dalam reportasenya, serta menggalang solidaritas terkait berbagai insiden kelam tersebut. 

Namun, sejauh apa media telah menghadirkan jurnalisme empati dalam tragedi bertubi-tubi itu, khususnya soal tragedi di Stadion Kanjuruhan guna membangun empati (publik)?

Jurnalisme Empati dalam Kasus Tragedi

Jurnalisme empati dianggap sebagai bentuk pemberitaan ideal untuk melaporkan bencana, musibah, dan peristiwa tragis lainnya. Saya merujuk pada konsep jurnalisme empati yang diperkenalkan oleh Ashadi Siregar untuk melihat pemberitaan soal tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur.

Siregar pernah mengatakan bahwa jurnalisme empati pada dasarnya berusaha mengajak para wartawan untuk selalu mencurigai kekuasaan di balik setiap situasi sosial. Dalam konteks jurnalistik, kecurigaan wartawan mesti tertuju pada “korupnya kekuasaan dalam interaksi sosial (yang) akan membawa korban manusia” (Haryanto, 2016: 81). 

Dalam konteks tragedi, para korban harus dijadikan subjek pemberitaan. Tak lupa, wartawan sebaiknya menggunakan metode partisipatoris dalam proses reportase. Pada konteks tragedi di Stadion Kanjuruhan di Malang Jawa Timur, Reza Gunandha dari Suara.com berusaha mengimplementasikan konsep jurnalisme empati itu. 

Salah satu pendukung Aremania, Eko Arianto, dijadikan subjek dalam reportase mendalam tersebut. Wartawan Suara.com itu berusaha mendengarkan sekaligus menceritakan kesaksian panjang lebar yang diberikan Eko. Dijadikannya salah satu supporter itu sebagai subjek berita dikarenakan saat itu ia tengah berada di tempat kejadian peristiwa (TKP).

Trauma atas tembakan gas air mata oleh kepolisian yang membuat supporter Arema begitu membekas, kehilangan orang-orang terdekat, dan kekesalan atas sikap aparatur keamanan di lapangan yang “tak mengindahkan” teriakan-teriakan dari penonton agar tak meneruskan tindakannya (menembakan gas air mata secara membabi buta), mewarnai baris demi baris dalam reportase Reza. Berikut petikan reportasenya:

“Di tengah kesesakan, Eko melihat orang-orang yang terjebak berusaha menjebol dinding semen agar bisa keluar dari stadion. Dengan alat seadanya, Aremania berjuang menjebol dinding tersebut. Eko dan kawannya berinisiatif mencari aparat keamanan di sekitar agar bisa membantu membukakan pintu,” tulis Reza dalam reportasenya, berjudul ‘Kengerian di Pintu 13, yang Sebenarnya Terjadi saat Tragedi Kanjuruhan’, tayang pada Selasa 4 Oktober 2022.

Penggalan reportase di atas mencerminkan keterbukaan sikap dan empati wartawan tersebut kepada korban. Selain itu, deskripsi dari situasi yang terjadi di lapangan saat itu (runyam), menyentuh, dan menggalang solidaritas juga begitu terlihat. Dalam reportasenya, wartawan Suara.com itu pun berusaha “tak mengulangi trauma yang telah terjadi pada korban”, seperti tidak menyajikan reportase yang bernuansa blak-blakan dan frontal.

Dalam konteks tragedi/bencana terkini, reportase yang mengedepankan jurnalisme empati juga ditemui dalam insiden gempa bumi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Reportase tersebut berusaha merekam aksi heroik seorang ibu yang rela menerjang reruntuhan untuk menyelamatkan anak perempuannya.

Wartawan tersebut juga dengan seksama mendengarkan pengakuan sang ibu saat akses jalan yang hendak ia lalui terputus. “Akses jalan belum bisa dibuka, saya terobos-terobos. Lewat sawah-sawah saya berjuang demi anak daripada kenapa-kenapa,” kata Ibu empat anak ini.

Momen penuh kegetiran dalam reportase ini terlihat jelas. Hal itu ditandai mulai dari pelukisan latar tempat terjadinya bencana (pegunungan), situasi yang saat itu terjadi seperti listrik padam, jalanan tertimbun longsor, hingga bagaimana ibu empat anak tersebut mencari pertolongan untuk anak-anaknya.

Reportase yang membenamkan diri untuk memahami keadaan yang dialami subjek berita seperti ini menjadi penanda telah dipraktikannya jurnalisme empati.

Manfaat dan Kritik Empati dalam Jurnalisme

Seperti halnya profesi kedokteran yang biasa mendengarkan keluhan pasiennya, jurnalisme juga pada dasarnya melakukan teknik itu pada narasumbernya. Dalam meliput komunitas yang berbeda dengan wartawan, bisakah empati digunakan untuk memberi liputan yang lebih representatif? Keith Woods tahu bagaimana empati dapat mengubah cara kita melakukan jurnalisme.

Sebagai seorang wartawan muda, Woods pernah mengerjakan liputan olahraga untuk The Times-Picayune, surat kabar Amerika Serikat yang terbit di New Orleans. Saat itu, Woods menyadari bahwa dia bisa meliput tiga perguruan tinggi kulit hitam dan tim bola basket. Karena kemampuan itu, dia tak hanya menulis tentang apa yang dilakukan para atlet ketika di lapangan tapi juga menceritakan kisah pribadi mereka. Woods memberi pembaca sebuah jendela untuk masuk ke dalam kehidupan dan impian dari subjek berita tersebut.

Usai Woods melakukan teknik itu dalam liputannya, reportase bidang olah raga dari tiga perguruan tinggi tersebut pada akhirnya terus bercerita tentang para pemain bukan hanya sebagai atlet melainkan juga sebagai manusia. Kata Woods, itulah seni empati dalam jurnalisme. Langkah pertama untuk meliput komunitas yang terabaikan adalah memahami perspektif orang-orang di komunitas itu dan membiarkan mereka menceritakan kisah mereka sendiri. 

Pelibatan empati dalam jurnalisme diakui bermanfaat meski juga dikritik. Teknik ini dapat membantu wartawan memahami orang-orang dengan pandangan yang berlawanan dan berbeda dari wartawan, mendorong wartawan memosisikan diri dalam keadaan yang dialami oleh subjek pemberitaan, dan menyebarkan perasaan emosional narasumber kepada publik melalui berita yang dibuat.

Di sisi lain, teknik ini biasa mendapat kritik dapat membahayakan netralitas wartawan. Sebuah penelitian yang dilakukan guru besar jurnalisme di Universitas Syracuse meminta 52 mahasiswanya untuk memberi peringkat terhadap 28 pernyataan tentang jurnalisme. Hasilnya, mahasiswa banyak menyetujui pernyataan: “wartawan harus mengejar kebenaran, terlepas dari hasilnya” dan “wartawan harus lebih berhati-hati saat meliput kelompok yang terpinggirkan”. Dengan kata lain, empati dianggap tak bisa dilibatkan dalam setiap kerja jurnalistik.

Terlepas dari manfaat dan kritiknya, empati, dalam konteks reportase tertentu, bisa membangun peliputan berita yang komprehensif dan menarik. Ia bisa memberikan dasar mengenai berita yang perlu diproduksi sekaligus sarana wartawan untuk memahami situasi para narasumbernya.
 

Haryanto, Ignatius. (2016). "Performa Media, Jurnalisme Empati, dan Jurnalisme Bencana: Kinerja Televisi Indonesia dalam Peliputan Bencana (Kasus Liputan TV One terhadap Hilangnya Air Asia QZ 8501)". Jurnal Ilmu Komunikasi Ultimacomm, Vol 8 No 1, 81.

P. Kim Bui. The Empathetic Newsroom: How Journalists Can Better Cover Neglected Communities. American Press Institute, 26 April 2018. https://www.americanpressinstitute.org/publications/reports/strategy-studies/empathetic-newsroom/

Munno, Greg & Megan Craig. Can Journalism Be Both Impartial and Empathetic? Nieman Foundation, 6 Agustus 2020. https://nieman.harvard.edu/articles/can-journalism-be-both-impartial-and-empathetic/