Coldplay, grup musik rock asal Britania Raya dikenal sebagai band yang "pemilih" dalam melakukan konser. Mereka tidak sembarangan memilih destinasi konser dan tidak mau mengadakannya di negara-negara yang tidak peduli pada isu pelestarian lingkungan, sampah plastik, hingga energi berkelanjutan. Indonesia menjadi salah satu negara yang enggan mereka sambangi karena alasan lingkungan yang cukup fundamental itu. 

“Kami menyadari pada tur terakhir kami bahwa itu memiliki dampak besar ketika Anda mengadakan acara di kota dan setiap orang harus melakukan perjalanan untuk sampai ke sana," kata sang vokalis Chris Martin.

Sementara itu, data World Population Review menunjukkan Indonesia merupakan negara urutan kelima penghasil sampah plastik terbanyak di dunia dan urutan kelima penyumbang sampah plastik terbanyak ke laut. Tentu ini bertentangan dengan niat Coldplay yang ingin menggelar konser tanpa plastik. Di sisi lain, Coldplay sempat menawarkan Presiden Joko Widodo untuk memberi komitmen terhadap bumi dan iklim lewat The Ban Ki-moon Centre. Penerapan sistem ramah lingkungan dalam konser dilakukan pula oleh Radiohead, The 1975, dan Billie Eilish.

Coldplay yang dalam hal ini diwakili oleh pentolannya Chris Martin turut menjadi bagian dari green-influencer yang menyuarakan dan berpengaruh terhadap isu lingkungan di dunia. Chris Martin bahkan juga pernah mengikuti salah satu forum green-influencer yang banyak melibatkan eco-celebrity seperti Bill Gates, Mark Zuckerberg, Leonardo DiCaprio, Bradley Cooper, Katy Perry, dan Orlando Bloom. Forum ini digelar selama tiga hari di resor mewah di Sisilia, Italia. 

Mengenal Green-influencer

Green-influencer merupakan istilah yang merujuk pada seseorang atau kelompok yang memiliki perhatian, kepedulian, dan pengaruh besar kepada publik dalam isu-isu lingkungan. Mereka memiliki kemampuan untuk mempengaruhi, mengubah pandangan dan perilaku melalui aktivisme lingkungan mereka. 

Berbeda dengan "influencer" di media sosial yang memiliki banyak follower baik di dunia nyata maupun maya, green-influencer tak mensyaratkan jumlah follower khusus asalkan suara mereka terkait lingkungan bisa didengar oleh khalayak dan media. Mereka berasal dari berbagai golongan dari tingkat individu, perkumpulan, komunitas, hingga kelompok-kelompok marginal. 

Dari golongan perorangan, sosok yang dianggap sebagai green-influencer salah satunya adalah Greta Thunberg, seorang aktivis lingkungan asal Swedia yang mengampanyekan isu-isu pemanasan global dan perubahan iklim. Lantas, ada Autumn Peltier, advokat hak masyarakat adat Anishinaabe dari Wiikwemkoong First Nation di Pulau Manitoulin, Ontario, Kanada yang melindungi akses air komunitas adat. Ada pula Vanessa Nakate, seorang aktivis perubahan iklim dari Uganda. Ia merasa prihatin terhadap suhu tinggi yang tak lazim di negaranya. Dia mendirikan Youth for Future Africa dan Rise Up Movement yang berbasis di Afrika.

Kendati memiliki peran penting dalam membangun kesadaran lingkungan dan iklim publik, green-influencer tak lepas dari kontroversi. Barbara Ellen dalam tulisannya di The Guardian mencatat pertemuan para green-influencer di Sisilia  turut dihadiri oleh sekitar 300 selebritas lingkungan. Tak ketinggalan juga Pangeran Harry memberikan pidato mengharukan tentang lingkungan dengan bertelanjang kaki. Ironisnya, para sosok publik ini datang ke tempat tersebut menggunakan helikopter dan jet pribadi yang melepaskan ratusan ton CO2.

Di sisi lain, kampanye melestarikan bumi para green-influencer/eco-celebrity ini juga bermasalah. Mereka menyuarakan bagaimana "kita" harus melestarikan bumi. Tentu, “kita” yang dimaksud adalah kita, bukan mereka. Mereka tetap dapat bersantai di kamar yang mahal, menggunakan barang branded yang merusak alam, hingga terbang dengan jet yang menambah emisi karbon. 

Hal ini tambah bermasalah karena di Amerika Serikat sendiri, masyarakat kulit berwarna menderita ketidakadilan lingkungan yang bertumpuk-tumpuk. Penelitian mengungkap, orang-orang Hispanik dan Afrika-Amerika menghirup lebih banyak polusi dibandingkan yang mereka buat. Orang Hispanik menghirup polusi 63 persen dan orang Afrika-Amerika 56 persen lebih banyak daripada yang mereka hasilkan masing-masing. Di sisi lain, orang Kaukasia (kulit putih) terpapar polusi udara 17 persen lebih sedikit daripada yang mereka hasilkan.

Belum lagi data menyebutkan 86 persen emisi CO2 global dihasilkan oleh separuh negara terkaya di dunia. Sementara itu, separuh terbawah (negara-negara miskin) hanya mengeluarkan 14 persen. Data ini menunjukkan benua, negara, hingga wilayah yang berbeda memiliki tanggung jawab yang berbeda dalam hal perubahan iklim, hal yang tidak nampak ketika para green-influencer menagih “kita” bertanggung jawab terhadap kerusakan iklim secara setara.

Leonardo YIP dalam Earth mengidentifikasi empat kategori sosial yang terdampak krisis iklim secara berbeda: ekonomi, etnisitas, global, dan generasi. Dampak krisis iklim akan lebih buruk menimpa kelompok ekonomi menengah ke bawah yang kemampuan adaptasinya terbatas ketimbang ke atas. Demikian juga dengan kelompok etnis marginal, negara-negara berkembang, serta generasi muda. Ketimpangan di keempat isu kategori inilah yang belum banyak diamplifikasi oleh para green-influencer atau eco-celebrity. 

Mencuri Panggung

Permasalahan lainnya dari green-influencer adalah mereka mencuri perhatian publik dari perjuangan yang lebih luas. Vanessa Nakate awalnya tertarik dengan aktivisme iklim pada tahun 2018 setelah mengetahui curah hujan dan panas ekstrem yang mempengaruhi petani dan produksi pangan di Uganda, termasuk keluarganya. Sektor pertanian dan peternakan Uganda sendiri menyokong 70 persen perekonomian negaranya. Nakate juga menunjukkan melalui pendekatan dan pengalaman personal yang dialaminya bagaimana pengalaman kulit hitam secara rutin dihilangkan dalam kampanye iklim. 

Yang menarik dari perjuangan Nakate adalah kekritisannya ketika organisasi dan jurnalis menganggapnya sebagai suara Afrika. Menurutnya, hal ini bermasalah. Di seluruh dunia, sudah banyak aktivis melakukan pekerjaan luar biasa dan fokus terhadap satu orang akan menghapus pengalaman dan cerita lain. Solusinya bukanlah dengan menampilkan gerakan iklim (yang dilakukan oleh satu orang), tetapi ada jutaan orang yang melakukan pekerjaan luar biasa dan berorganisasi di komunitas mereka. 

Gerakan semacam ini ditunjukkan Nakate ketika ia bertemu dengan kaum muda yang membuat briket, bahan bakar memasak alternatif yang murah dan dibuat dari limbah yang diambil di sungai. "Orang-orang dan kisah-kisah inilah yang benar-benar perlu kita dengarkan," katanya.

Dia juga ingin memastikan aktivis dan komunitas yang terdampak dari seluruh Afrika dapat dihadirkan dalam gerakan lingkungan global. Dia mengharapkan mereka dapat turut melakukan partisipasi secara berarti dan memikirkan solusi krisis ekologis global. Nakate bahkan berujar jika cerita-cerita mereka tidak didengar, solusi yang dibiayai memiliki risiko tidak diterima dan bahkan berbahaya bagi masyarakat yang terkena dampak.

Untuk itu, green-influencer perlu memberi ruang terhadap suara-suara dari kelompok dan kelas yang paling terdampak. Pasalnya, mereka merupakan populasi rentan yang menghadapi dampak paling besar, terutama masyarakat di negara-negara miskin (banana republic), komunitas adat, perempuan, disabilitas, dan kelompok marginal. Dengan kata lain, solusi kolektif diperlukan bukan hanya untuk ras atau golongan tertentu saja, tetapi juga kelompok-kelompok terpinggirkan yang jauh dari akses. Tujuannya tidak hanya untuk menjaga planet dan kehidupan, tetapi juga bagaimana membuat planet dan kehidupan menjadi lebih inklusif dan berkelanjutan.