Hari ini, podcast berkembang secara eksponensial. Audio blogging atau kegiatan seseorang membagikan pemikiran dan pengalamannya melalui rekaman suara sudah ada sejak tahun 1980-an. Sementara itu, podcast dikenal sejak Apple meluncurkan iPod yang mengawali revolusi industri musik pada Oktober 2001. Awal penyebutan podcast dimulai saat jurnalis Ben Hammersley dalam artikelnya memperkenalkan istilah “podcasting” (iPod and Broadcasting). 

Dalam bahasa Indonesia, podcast dikenal sebagai siniar. Kata ini dibentuk dengan menyisipkan "-in" pada kata dasar "siar". KBBI mengartikan siniar sebagai "siaran (berita, musik, dan sebagainya) yang dibuat dalam format digital (baik audio maupun video) yang diunduh melalui internet." Pengguna bisa mengunduh podcast untuk didengarkan saat mereka sedang santai di kamar, membersihkan rumah, atau dijadikan teman bepergian. 

Riset Edison dan Nielsen menyebut jumlah podcast aktif dunia mencapai 1 juta dengan muatan 30 juta episode pada tahun 2021. Hasil survei Jakpat (2020) menunjukkan jumlah pendengar podcast di Indonesia didominasi oleh anak muda berusia 15-19 tahun (22,1%), 20-24 tahun (22,2%), dan 25-29 (19,9%). Bahkan, Indonesia menjadi negara kedua dengan pendengar podcast terbanyak setelah Brasil pada kuartal III 2021 (data GlobalWebIndex)

Hari Podcast Internasional juga diperingati setiap tanggal 30 September di seluruh dunia. Format Podcast semakin bervariasi, Hennig (2017) menyebut ada 13 tipe podcast yang di antaranya adalah monolog, wawancara, storytelling, how to, pertunjukan musik, hingga drama audio. Podcast bisa dinikmati secara mudah melalui layanan streaming dari Spotify, Anchor, SoundCloud, dan YouTube. Bahkan, ada aplikasi Listen Later yang khusus digunakan untuk mengkurasi daftar putar gratis untuk didengarkan nanti.

Di Indonesia, komika Adriano Qalbi dijuluki sebagai Bapak Podcast Indonesia setelah mengasuh kanal pribadinya Podcast Awal Minggu (PAM) sejak tahun 2015. Karier Adriano di dunia podcast membuka jalan dan memberi inspirasi bagi kebangkitan dunia podcast Tanah Air. Podcast terus berkembang dan digemari anak muda sejak 2017-2018. Keberadaan podcast menjadi sarana bagi anak muda untuk memahami isu-isu yang menjadi kegelisahan dan membicarakan isu yang tengah tren/viral. Ini didukung dengan pembuatan podcast yang dikategorikan mudah dan murah. Hanya dengan berbekal ponsel, clip-on, dan pembawa acara, seseorang bisa membuatnya.

Podcast dan Radio

Sebelum podcast berkembang pesat hari ini di antara generasi kiwari, terdapat media dalam format lain yang disebut radio. Terdapat sejumlah perbedaan antara podcast dan radio. Jika radio disiarkan secara langsung, podcast tidak. Secara penjadwalan dan durasi, radio pun terbatas, sementara podcast fleksibel. Lantas, dari sisi konten, radio lebih beragam dan menyebar kepada siapa saja, tapi untuk podcast konten lebih spesifik dengan pendengar yang spesifik pula. Isu yang diangkat radio pun lebih kekinian ketimbang podcast. Tak kalah penting, penyiaran radio masih di bawah kontrol pemerintah sementara podcast relatif lebih bebas. 

Kemudahan dan fleksibilitas yang ditawarkan podcast tersebut membuatnya hari ini sangat digemari. Di samping itu, podcast memberikan “nada personal” dengan narasi yang autentik. Mendengarkan podcast dapat menciptakan pengalaman intim dengan pendengar sebagaimana yang dikatakan oleh Judithe Registre, host The Get InPowered Podcast, “mendengarkan seseorang berbicara menciptakan koneksi personal dengan orang tersebut.” Tentu saja, hal ini semakin relevan ketika konten podcast relevan dengan apa yang dialami pendengar.

Podcast sebagai Suara Alternatif?

Masih terdapat beberapa kritik dari produksi podcast saat ini. Meski podcast dikatakan sebagai media audio alternatif yang memberikan suara bagi suara-suara marginal, dalam kenyataannya podcast masih menjadi media monopoli selebritas, figur publik, dan pesohor. Berkembangnya media saluran seperti podcast menjadi panggung baru bagi selebritas untuk mendominasi wacana publik. Dalam panggung podcast terdapat pertarungan wacana yang mengeliminasi saluran podcast-podcast kecil untuk tampil, meski tak dipungkiri juga warna dan suara lain muncul dalam podcast-podcast teratas yang tidak diasuh oleh figur publik.

Dalam konteks di Indonesia, podcast selebritas terkenal dengan modal sosial, finansial, dan kekuasaannya bisa mengundang siapa saja. Selebritas bersangkutan dapat bersiar tanpa dibekali etika jurnalistik, kemudian podcastnya didengarkan oleh jutaan orang dan mempengaruhi tindak dan wacana publik. Pun, ada podcast dengan agenda tertentu yang menimbulkan polarisasi dan misinformasi. Salah satu kasusnya terjadi saat pandemi Covid-19, ketika podcast menjadi salah satu pilihan masyarakat dalam mencari informasi.

Di sisi lain, dalam dunia podcast bermunculan fenomena ketidaksantunan berbahasa. Fenomena ini salah satunya dilakukan oleh figur publik terkenal dalam salurannya. Dia menggunakan julukan dengan nama anggota tubuh manusia, perbandingan tidak pantas, nama hewan, menjijikkan, dan yang mengungkapkan keadaan mitra tutur. Di sisi lain, dari podcast tertentu kita juga melihat bagaimana “akrolek” atau variasi bahasa yang lebih tinggi dan bergengsi secara aktif digunakan untuk menciptakan respons tertentu.

Sebenarnya, podcast memiliki peran besar untuk meningkatkan kesadaran akan isu tertentu. Podcast menjadi platform yang tepat untuk pekerjaan ini karena dapat mengeksplorasi bahasan yang kompleks dan tak umum dengan nuansa yang lebih santai. Ini menjadi jawaban dari metode peningkatan kesadaran yang bersifat intimidatif dan menjemukan. Tak mengherankan bahwa podcast kini juga digunakan sebagai sumber pembelajaran informal

Di ranah penelitian sosial, podcast mulai dimanfaatkan sebagai metode alternatif. Hal ini didemonstrasikan oleh City Road Podcast, kanal bertema kota dan urban yang menyiarkan wawancara yang dilakukan lewat podcastnya. Ada pula podcast Humans of Purpose yang dipandu oleh Mike Davis dan mempercakapkan kehidupan manusia serta berusaha menciptakan dampak sosial yang positif.

Podcast hari ini memberi andil sebagai platform media yang digunakan pemuda untuk mengenal atau belajar isu-isu aktual. Podcast diibaratkan menjadi perpustakaan besar yang memiliki miliaran data dan bisa didengarkan secara berulang-ulang. Produksi dan distribusi yang tergolong mudah, murah, fleksibel, dengan berbagai konten yang variatif pun menjadi alasan mengapa podcast sangat digandrungi.