Kepada Yth. Komisi Penyiaran Indonesia

Daniella Ilene, salah satu kontestan Indonesia’s Next Top Model (selanjutnya disebut INTM), mendapatkan komentar tidak enak ketika menceritakan pengalamannya melawan depresi dan gangguan makan. Dengan nada tak percaya, juri Deddy Corbuzier menanggapi, “Depresi? Bentar, bentar, bentar. Saya penasaran deh dengan teman-teman di sini, apalagi kamu, Ilene. Kamu tuh cantik. Kamu tuh model, tinggi. Terus, seksi, iya. Pinter, iya. Kalau kamu depresi, kamu itu nyakitin tukang martabak yang jualan depan rumah.”

Selain Deddy, juri Luna Maya juga mengeluarkan komentar yang terdengar menyepelekan pengalaman Ilene sebagai penyintas gangguan kesehatan mental. “Saya suka banget makan, jadi saya eating disorder kali ya?” ujar Luna Maya.

Seolah kurang menusuk, Deddy bahkan menyalahkan Ilene karena merasa stres di-body shaming oleh orang-orang. Ia mengatakan sudah risiko sebagai model mengalami perundungan yang berhubungan dengan penampilan badannya.

Kami sebagai perwakilan kelompok masyarakat yang terdiri dari Yayasan Insan Teman Langit, Remotivi, dan fanbase Ilene benar-benar menyayangkan komentar yang dilontarkan oleh Deddy Corbuzier dan Luna Maya. Komentar tersebut bukan hanya tidak sensitif, tapi juga memperkuat stigma gangguan kesehatan mental yang begitu mengakar di Indonesia. Para juri menyudutkan dan meremehkan apa yang dialami oleh Ilene lewat perbandingan pengalaman pribadi yang tak berhubungan dengan gangguan jiwa (“Saya suka banget makan, jadi saya eating disorder kali ya?) dan perbandingan atribut fisik penyintas yang menunjukkan ketidakpercayaan terhadap kesaksian penyintas (“Kamu tuh cantik, model, tinggi, terus seksi, iya. Pinter, iya.”).

Kedua juri nampaknya tidak akrab dengan betapa umumnya gangguan makan di antara model-model fesyen internasional. Studi yang dilakukan oleh Rodgers dkk. (2017) dengan sampel 85 model perempuan New York Fashion Week menunjukkan industri fesyen selalu menekan dan menuntut para model untuk memperhatikan berat badan mereka. Hasil penelitian juga menunjukkan 81% model memiliki BMI di bawah 18,5, hal yang menandakan bahwa mereka sangat kurus. Partisipan pun menyatakan mereka kerap diet, berolahraga, sengaja tidak makan, minum obat-obatan diet, sengaja memuntahkan makanan, dan bahkan menggunakan obat-obatan stimulan seperti ritalin dan kokain.

Permasalahan ini begitu mengkhawatirkan sampai-sampai Prancis, pusat fesyen dunia, membuat undang-undang yang melarang penggunaan model-model yang terlalu kurus. Agensi dan rumah fesyen yang melanggar akan dikenakan penjara sampai 6 bulan dan denda €75,000. Selain Prancis, Italia, Spanyol, dan Israel sudah lebih dulu menerapkan peraturan serupa. Peraturan ini diberlakukan karena sudah banyak model yang meninggal karena tekanan industri untuk kurus. Tak hanya itu, tekanan untuk kurus juga menerpa remaja dan perempuan dewasa yang terpengaruh oleh standar kecantikan yang disokong oleh media dan industri fesyen.

Dari segi analisis media, ucapan Deddy Corbuzier dan Luna Maya semakin mempertegas stigma terhadap kesehatan mental. Namun jauh sebelum ucapan miring mereka berdua, media telah mengonstruksi dan mempengaruhi stigma terhadap penderita gangguan jiwa. Media kerap menggambarkan penderita gangguan jiwa sebagai orang-orang yang kotor, tak bisa mengurus diri, bodoh, dan suka melakukan tindak kekerasan dan kriminal. Padahal, berbagai penelitian psikologi dan psikiatri dari luar negeri telah menunjukkan hanya sedikit penderita gangguan kejiwaan yang benar-benar melakukan tindak kekerasan. Mayoritas penderita gangguan jiwa justru terlihat “normal” dan bisa beraktivitas seperti biasa.

Penggambaran media yang tidak adil terhadap penderita gangguan jiwa membuat stigma terhadap gangguan jiwa semakin kencang. Sayangnya, pandangan buruk terhadap penderita gangguan jiwa berkorelasi langsung dengan banyaknya waktu yang dihabiskan untuk menonton TV. Stigma penonton media TV terhadap gangguan jiwa ini datang dari penggambaran pengidap gangguan jiwa yang tak adil, bias gender yang menggambarkan laki-laki sebagai penderita psikosis, gangguan kepribadian, dan masa kecil yang buruk sementara perempuan ditampilkan menderita disfungsi seksual, serta penggambaran tenaga kesehatan dan perawatan terhadap pasien gangguan jiwa yang tidak tepat dan berlebihan (Srivastava dkk. 2018)

Dilihat dari aspek promosi kesehatan mental, media idealnya menjadi mitra strategis dalam meningkatkan kesadaran mengenai masalah kesehatan jiwa. Media memiliki peran penting dalam menyebarkan informasi yang dapat membentuk pola pikir masyarakat. Mempromosikan isu kesehatan mental menjadi salah satu misi utama yang harus dilakukan dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Selain itu, World Health Organization (WHO) juga menjadikan upaya promosi dan pencegahan terhadap kesehatan mental sebagai salah satu tujuan tertulis dalam Mental Health Action Plan 2013-2020. Dengan demikian, penyebaran stigma melalui tayangan INTM di televisi bertentangan dengan upaya promosi kesehatan jiwa global.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) memiliki peran penting dalam menjamin masyarakat untuk memperoleh tayangan yang layak dan benar sesuai dengan hak manusia. Meskipun begitu, wakil ketua KPI Pusat memberikan tanggapan bahwa tayangan tersebut tidak mendeskreditkan Ilene maupun orang-orang dengan permasalahan serupa. Padahal, dalam Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS) tahun 2012 tertulis beberapa pasal yang menuntut lembaga penyiaran menghormati keberagaman latar belakang. Beberapa pasal dalam Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) adalah sebagai berikut:

  1. Pasal 7

Lembaga penyiaran tidak boleh menyajikan program yang merendahkan, mempertentangkan dan/atau melecehkan suku, agama, ras, dan antargolongan yang mencakup keberagaman budaya, usia, gender, dan/atau kehidupan sosial ekonomi.

  1. Pasal 13

Lembaga penyiaran wajib menghormati hak privasi seseorang dalam memproduksi dan/atau menyiarkan suatu program siaran, baik siaran langsung maupun siaran tidak langsung.

      3. Pasal 15 ayat (1) poin f dan ayat (2)

(1) Poin f. Lembaga penyiaran wajib memperhatikan dan melindungi hak dan kepentingan orang dengan masalah kejiwaan

(2) Lembaga Penyiaran tidak boleh menyajikan program yang menertawakan, merendahkan, dan/atau menghina orang dan/atau kelompok masyarakat sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1).

Sedangkan beberapa pasal dalam Standar Program Siaran adalah sebagai berikut:

1. Pasal 14 poin a, b, d, g dan h

Masalah kehidupan pribadi sebagaimana dimaksud pada Pasal 13 dapat disiarkan dengan ketentuan sebagai berikut:

Poin a: tidak berniat merusak reputasi objek yang disiarkan;
Poin b: tidak memperburuk keadaan objek yang disiarkan;
Poin d: tidak menimbulkan dampak buruk terhadap keluarga, terutama bagi anak-anak dan remaja;
Poin g: tidak menjadikan kehidupan pribadi objek yang disiarkan sebagai bahan tertawaan dan/atau bahan cercaan; dan
Poin h: tidak boleh menghakimi objek yang disiarkan.

2. Pasal 17 ayat (1) dan ayat (2) poin g

(1) Program siaran dilarang menampilkan muatan yang melecehkan orang dan/atau kelompok masyarakat tertentu. 
(2) Melakukan perlindungan kepada orang dan/atau kelompok masyarakat tertentu sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) antara lain, tetapi tidak terbatas:

Poin 9: orang dengan masalah kejiwaan

Merujuk dari poin-poin tersebut, Yayasan Insan Teman Langit bersama dengan Remotivi memberikan rekomendasi kepada KPI agar melakukan beberapa upaya sebagai berikut:

  1. Turut serta dalam upaya mempromosikan kesehatan mental sesuai yang ditargetkan dalam SDGs goal nomor 3 dengan menerapkan P3SPS.

  2. Memberikan respons cepat berupa teguran maupun sanksi kepada stasiun TV yang menayangkan stigma terhadap kesehatan mental seperti yang dilakukan terhadap Ilene dan kerap melakukan pengawasan dan tindakan yang sama terhadap stasiun TV atau media lain yang melakukan hal serupa.

  3. Merujuk pada tujuan SDGs nomor 3, melakukan revisi P3SPS dan/atau menerapkan standar khusus pada program, tayangan dan/atau publikasi yang dilakukan media terkait dengan kesehatan mental. Kami lampirkan juga rangkuman pedoman mengenai penayangan gangguan makan di media di bagian belakang surat ini.

  4. Meningkatkan kapasitas lembaga dan/atau media mengenai kesehatan mental.

Naskah ini disusun bersama Into the Light.
 

 

Sumber : https://mindframemedia.imgix.net/assets/src/uploads/NEDC-Mindframe-Reporting-Guidelines.pdf

Media memiliki peran yang kuat dalam meningkatkan pemahaman masyarakat tentang faktor risiko dan dampak gangguan makan (eating disorder). Namun isu ini terkadang sedikit sulit untuk digambarkan secara sensitif dan akurat. Jenis tayangan tertentu berpotensi menimbulkan dampak berbahaya pada mereka yang berisiko mengalami gangguan makan. Informasi di bawah merupakan anjuran untuk para profesional media agar lebih bijak dalam pemilihan bahasa dan gambar dalam penyampaian pesan di layar kaya. Tentu saja, informasi ini dapat digunakan sejalan dengan code of practice media dan peraturan editorial.

Isu yang perlu diperhatikan

  • Bagaimana cara menanggapi cerita personal?
    a. Mewawancarai seseorang dengan gangguan makan memerlukan sensitivitas dan kehati-hatian. Ketika memungkinkan pilih seseorang yang telah sembuh dan terlatih untuk berbicara pada media.

    b. Akan sangat baik jika terdapat organisasi yang mendukung seseorang yang diwawancarai. Hal ini untuk mengurangi kemungkinan diskusi memicu kembali pemikiran dan perilaku yang mengganggu.

    c. Pastikan bahwa narasumber paham bahwa nama atau identitasnya boleh dirahasiakan dari publik.

    d. Detail perilaku tidak perlu dicantumkan, perubahan fisik pada narasumber “sebelum’ dan “sesudah” juga tidak perlu.

    e. Penggunaan foto, gambar, atau rekaman harus digunakan dengan persetujuan dan pemahaman atas dampak yang mungkin terjadi.

    f. Sulit untuk mengetahui informasi tentang seseorang hanya dari internet, apakah orang tersebut baik-baik saja atau tidak tanpa kontak personal.
     
  • Bagaimana dengan selebritas?
    a. Gangguan makan bukanlah hiburan. Menjual cerita tentang gangguan makan di dunia hiburan atau gosip meremehkan keseriusan dari gangguan makan.

    b. Gangguan makan kompleks dan tidak bisa disimpulkan dari tampilan fisik semata.

    c. Tampilkan gangguan makan sebagai gangguan yang mengancam nyawa, bukan gaya hidup.

    d. Perhatikan bahwa penggunaan bahasa yang berasosiasi dengan gangguan makan (misal terlihat anoreksia) untuk mendeskripsikan penampilan selebritas dapat menormalisasi gangguan makan.

    e. Sebelum melaporkan selebritas dengan gangguan makan, gunakan sumber yang reliabel dan perhatikan bahasa dan gambar yang digunakan.

    f. Menggunakan gambar tubuh artis “sesudah” dan “sebelum” yang berfokus pada berat badan dapat bermasalah untuk mereka yang memiliki risiko.
     
  • Promosikan perilaku mencari bantuan (help-seeking)
    a. Tekankan pentingnya mencari bantuan sebagai bukti bahwa jika perawatan yang lebih awal hasilnya akan lebih baik.

    b. Berikan informasi lembaga bantuan yang tersedia terutama yang berfokus pada gangguan makan.
     
  • Media dan gangguan makan
    a. Studi menunjukkan bahwa perempuan terpapar informasi yang berhubungan dengan gangguan makan melalui representasi di media. Beberapa temuan menunjukkan bahwa gambaran media atas “kurus ideal” menyebabkan ketidakpuasan terhadap tubuh dan gangguan perilaku makan.

    b. Menurut penelitian, laki-laki dan perempuan memiliki respons yang berbeda terhadap citra tubuh di media. Laki-laki akan terpengaruh secara negatif oleh gambaran tubuh atletis yang “ideal” menurut media.

    c. Namun, media juga dapat memiliki peran positif dalam memberikan pesan kebiasaan makan yang sehat dan dengan menyampaikan bahwa gangguan makan adalah gangguan mental dan fisik yang kompleks, bukan sekadar pilihan gaya hidup.
     
  • Cara menyampaikan informasi
    a. Sampaikan gangguan makan sebagai masalah kejiwaan yang serius.

    b. Fokus pada dampak fisik dan psikologis pada seseorang tersebut.

    c. Perhatikan bahwa gangguan makan memiliki dampak pada keluarga dan teman terdekatnya.

    d. Fokus pada faktor risiko gangguan makan.
     
  • Bisakah informasi atau gambaran terhadap gangguan makan menjadi problematik?
     
    Isu Opsi
    Informasi spesifik perilaku seseorang yang memiliki gangguan makan dapat menimbulkan “copycat behaviour” atau kecenderungan orang lain untuk meniru perilaku tersebut. Diskusikan perilaku terkait gangguan makan secara umum tanpa menyebutkan langkah-langkah yang diambil, frekuensi atau peralatan yang digunakan
    Penggunaan angka atau detail yang memiliki ukuran spesifik tertentu pada sebuah tulisan atau caption visual (seperti berat badan & BMI) dapat menyebabkan kompetisi dan perbandingan yang berbahaya. (Contoh: Saya hanya kehilangan 43 kilo bukan 50 kilo dsb.) Berikan gambar, informasi, dan caption yang berhubungan dengan kesehatan dan wellbeing.
    Gambaran tubuh seseorang dengan berat atau bentuk badan yang ekstrem dapat Berikan gambaran tubuh manusia yang bervariasi baik dalam segi ukuran atau
    menjadi motivasi beberapa orang untuk memiliki bentuk dan ukuran badan yang tidak realistis. bentuk
    Referensi spesifik atau situs pro-eating disorder dapat menjadi wadah orang berisiko mengetahui dan mendapatkan tips dan trik yang tidak benar. Diskusikan laman secara umum atau sebisa mungkin jangan gunakan referensi tersebut.
  • Apakah saya memperburuk stereotip?

    a. Istilah gangguan makan atau eating disorder mencakup berbagai gangguan yang berbeda—Anorexia Nervosa, Bulimia Nervosa, Binge Eating Disorder, dan presentasi tidak umum masing-masing gangguan. Hati-hati untuk tidak menyamaratakan semua jenis gangguan makan seakan pengalaman semua orang sama.

    b. Tunjukkan jenis-jenis gangguan makan yang ada alih-alih berfokus pada Anorexia Nervosa saja.

    c. Semua gangguan makan dapat berasosiasi pada konsekuensi serius yaitu kematian.

    d. Jangan menyampaikan stereotip bahwa hanya perempuan yang mengalami gangguan makan.

    e. Prevalensi gangguan makan tinggi pada perempuan, namun laki-laki juga dapat mengalaminya.

    f. Hindari mengasosiasikan gangguan makan dengan berat badan tertentu seakan seseorang yang memiliki berat badan tertentu mengalami gangguan makan.
     
  • Bahasa yang baik digunakan
     
    Isu Pilihan kata-kata
    Pemilihan bahasa yang digunakan untuk melabel seseorang dengan penyakitnya dapat menyebabkan seseorang merasa tersingkirkan atau terstigma.

    Lebih baik: “hidup dengan”, “memiliki diagnosa”, “dalam perawatan” gangguan makan, atau gangguan lainnya.

    Hindari: “Orang yang Anoreksik”, “Bulimic”.

    Bahasa dapat menyiratkan gangguan makan sebagai hukuman seumur hidup tanpa adanya peluang kesembuhan.

    Lebih baik: “hidup dengan”, “memiliki diagnosis”, “dalam perawatan” gangguan makan, atau gangguan lainnya.

    Hindari: “menderita” atau “korban” gangguan makan.

    Bahasa yang menunjukkan penghakiman pada penampilan dapat meningkatkan risiko di antara mereka yang rentan

    Lebih baik: kalimat yang tidak fokus pada penampilan atau ukuran tubuh secara spesifik.

    Hindari: “kurus”, “kerempeng”, “gendut”.

    Pemilihan bahasa dapat memberikan gambaran gangguan makan sebagai sesuatu yang glamor atau sebagai solusi suatu masalah

    Lebih baik: bahasa yang sederhana tanpa adanya penghakiman pada nilai-nilai tertentu.

    Hindari: “usaha yang berhasil” atau “percobaan yang gagal”.

     

 

Respons KPI soal Ucapan Deddy Corbuzier dan Luna Maya di INTM yang Tuai Kecaman - kumparan.com diakses dari

https://kumparan.com/kumparanhits/respons-kpi-soal-ucapan-deddy-corbuzier-dan-luna-maya-di-intm-yang-tuai-kecaman-1vPUFssWnQ9

Tujuan 03 (sdg2030indonesia.org) diakses dari https://www.sdg2030indonesia.org/page/11-tujuan-tiga

Regulasi P3SPS http://www.kpi.go.id/download/regulasi/P3SPS_2012_Final.pdf

Media and mental health (nih.gov) diakses dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6198586/

How Often and How Consistently do Symptoms Directly Precede Criminal Behavior Among Offenders With Mental Illness? (apa.org) diakses dari https://www.apa.org/pubs/journals/releases/lhb-0000075.pdf

Skinny Models in the Media & Eating Disorders (eatingdisorderhope.com) diakses dari https://www.eatingdisorderhope.com/blog/skinny-models-media-eds

Isabelle Caro, Anorexic Model, Dies at 28 - The New York Times (nytimes.com) diakses dari

https://www.nytimes.com/2010/12/31/world/europe/31caro.html#:~:text=Isabelle%20Caro%2C%20a%20French%20model,the%20disease%2C%20died%20on%20Nov.&text=She%20was%205%20feet%204,since%20the%20age%20of%2013.

Results of a strategic science study to inform policies targeting extreme thinness standards in the fashion industry - Rodgers - 2017 - International Journal of Eating Disorders - Wiley Online Library diakses dari https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1002/eat.22682

Israel passes law banning use of underweight models - BBC News diakses dari https://www.bbc.com/news/world-middle-east-17450275#:~:text=The%20Israeli%20government%20has%20passed,make%20a%20model%20appear%20thinner.

Catwalk ban on the skinny model in Italy | World news | The Guardian diakses dari https://www.theguardian.com/world/2006/dec/03/italy.barbaramcmahon

CNN.com - Skinny models banned from catwalk - Sep 13, 2006 diakses dari https://edition.cnn.com/2006/WORLD/europe/09/13/spain.models/