Dalam rangka menjaga independensi institusinya, Ombudsman Tempo meminta bantuan Remotivi untuk melakukan penelitian mengenai pemberitaan calon kandidat presiden 2024 di Koran Tempo. Remotivi menyambut baik ajakan Ombudsman Tempo sebab kerja-kerja penelitian seperti ini merupakan salah satu bentuk komitmen kami dalam mendorong media kembali menjalankan perannya sebagai institusi yang berorientasi pada kepentingan publik.

Berikut hasil penelitian kami yang sebelumnya sudah terbit di rubrik Opini Koran Tempo edisi 9 Agustus 2021.

Sekitar bulan April kemarin, pihak Ombudsman Tempo menghubungi Remotivi dalam rangka meminta bantuan memantau pemberitaan Koran Tempo. Pemantauan ini dilakukan guna mengetahui imparsialitas Koran Tempo dalam pemberitaan calon kandidat presiden 2024. 

Menanggapi permintaan ini, Remotivi merancang sebuah penelitian untuk menganalisis berita Koran Tempo yang diterbitkan antara 1 Oktober 2020 hingga 31 Maret 2021 dan memuat nama calon kandidat presiden 2024. Nama-nama calon kandidat yang kami gunakan dalam penelitian ini didasarkan pada survei Indikator Politik Indonesia (IPI). Hasil survei dari lembaga pimpinan Burhanuddin Muhtadi ini mendapatkan enam orang dengan elektabilitas tertinggi antara lain:

  1. Anies Baswedan (15,2%)

  2. Ganjar Pranowo (13,7%)

  3. Ridwan Kamil (10,2%)

  4. Sandiaga Uno (9,8%)

  5. Prabowo Subianto (9,5%)

  6. Agus Harimurti Yudhoyono (4,1%)

Dalam rancangan penelitian, kami terlebih dahulu mendefinisikan imparsialitas sebagai sikap tanpa bias dan prasangka. Dalam kajian media, konsep imparsialitas dapat dilihat melalui alokasi ruang dan pembingkaian dalam berita yang diproduksi. 

Guna melihat seperti apa alokasi ruang dan pembingkaian yang dilakukan Koran Tempo, kami menggunakan sejumlah variabel seperti framing, rubrik, tone berita, bentuk kemunculan, dan cakupan dimensi berita. Sejumlah variabel ini memiliki fungsinya masing-masing dalam proses analisis pemberitaan. Variabel rubrik, misalnya, dimanfaatkan untuk melihat seberapa banyak kandidat tertentu diberitakan dalam masing-masing rubrik.

Variabel bentuk kemunculan kandidat kami gunakan untuk melihat bagaimana kandidat tertentu ditonjolkan dalam sebuah pemberitaan. Sementara itu, cakupan dimensi berita berperan penting dalam menilai sejauh mana sebuah pemberitaan layak masuk dalam rubrik tertentu.

 

Visibilitas Kandidat: Dominasi Anies, Dominasi Jakarta

Dari hasil penelusuran atas 219 berita Koran Tempo yang memuat satu atau lebih nama calon kandidat presiden berdasarkan survei IPI, kami menemukan pemberitaan Anies Baswedan (Anies) mendominasi di sejumlah aspek, di antaranya frekuensi pemberitaan secara umum, bentuk penonjolan, dominasi ruang dalam rubrik, dan ketidaksesuaian cakupan dimensi berita.

Dibanding lima kandidat lainnya, Anies mendapat paling banyak ruang dalam pemberitaan Koran Tempo. Posisi kedua ditempati oleh Ridwan Kamil yang muncul dalam 56 berita, berselisih sangat jauh dari Anies yang muncul dalam 103 berita. Empat kandidat lainnya bahkan tidak muncul di lebih dari 30 berita.

Banyaknya kemunculan Anies dalam berita menunjukkan Koran Tempo tidak mendistribusikan ruang secara proporsional. Dalam konteks ini, proporsional tidak didefinisikan sebagai pemberian ruang yang merata kepada tiap kandidat. Kami menilai adanya pendistribusian ruang yang tidak proporsional setelah mengamati konteks kemunculan (diterbitkan di rubrik apa saja dan apa isu yang menyertainya) serta bentuk-bentuknya (kemunculan dalam judul, lead, kutipan langsung, parafrase, hanya disebut).

Saat kami menelusuri bentuk kemunculan calon kandidat dalam berita, kami menemukan beberapa bentuk penonjolan dari Koran Tempo. Penonjolan suatu isu atau kandidat umumnya dilakukan oleh media dengan menempatkan berita yang akan ditonjolkan di halaman depan atau sebagai tajuk utama (headline) dan memudahkan pembaca untuk mengetahui nama calon kandidat politik tertentu (Carol & McCombs, 2003; Moy dkk, 2016).

Salah satu bentuk penonjolan yang dilakukan Koran Tempo adalah memberikan ruang yang besar untuk pernyataan Anies dan Ridwan Kamil. Pernyataan kedua pimpinan daerah ini paling banyak dikutip secara langsung maupun diparafrase. Jumlah pernyataan keduanya sekitar dua kali lipat lebih banyak dibanding empat calon kandidat lainnya. Selain dalam bentuk pernyataan, penonjolan di Koran Tempo dalam rentang waktu penelitian ini terlihat ketika memberitakan isu polemik Partai Demokrat

1. Tabel Kandidat Berbanding Topik

Catatan: Dalam sejumlah berita, terdapat satu atau lebih nama calon kandidat yang muncul sehingga total berita yang dianalisis tidak sama dengan total kemunculan kandidat di tiap rubrik.

Selain menonjol dari segi pernyataannya, Anies juga paling banyak muncul dalam rubrik Metro yang fokus liputannya berada di wilayah Jabodetabek. Dari 219 berita yang kami teliti, terdapat 92 berita yang berasal dari rubrik Metro. Anies, selaku pimpinan pemerintah DKI Jakarta, diberitakan paling banyak dalam rubrik Metro, disusul oleh Ridwan Kamil dan Sandiaga Uno.

Dalam pemantauan kami, rubrik Metro banyak meliput persoalan kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menangani pandemi Covid-19, pembangunan infrastruktur di wilayah Jakarta, hingga demonstrasi Omnibus Law yang terjadi di pusat kota Jakarta.

2. Tabel Cakupan Berita

Meski sudah memperoleh banyak ruang di rubrik Metro, Anies tetap menjadi calon kandidat presiden yang paling banyak muncul di rubrik Berita Utama. Rubrik ini berfungsi sebagai tajuk utama dan mencakup berita-berita yang diprioritaskan oleh Koran Tempo. Dalam teori agenda setting (Carol & McCombs, 2003), berita yang dijadikan tajuk utama menggambarkan isu yang dianggap penting oleh media dan juga penilaian media atas apa yang penting diperbincangkan publik.

Dalam rubrik yang berperan sebagai tajuk utama ini, dominasi Anies dapat dilihat dari jumlah kemunculannya yang berselisih jauh dari AHY yang menempati posisi kedua. Sementara itu, AHY yang menduduki posisi kedua hanya ditampilkan di dua pemberitaan lebih banyak dibanding Ridwan Kamil dan Ganjar Pranowo yang menempati posisi tepat di bawahnya.

Dominannya Anies di rubrik Berita Utama dan Metro membuat kami harus menelusuri cakupan dimensi berita dari seluruh pemberitaan di rubrik Berita Utama. Cakupan dimensi berita membantu menganalisis kelayakan sebuah berita ditempatkan di rubrik tajuk utama. Variabel ini kami bagi menjadi tiga kategori yaitu Nasional, Lokal, dan Antar-Lokal.

Berita yang dijadikan sebagai tajuk utama idealnya memberitakan paling tidak satu aktor yang menjabat di organisasi berskala nasional maupun menjabat di lingkup pemerintah pusat. Para aktor ini umumnya dikutip oleh media jika sedang membahas isu berskala nasional yang berkaitan dengan aktor tersebut.

Berita tajuk utama juga seharusnya membahas isu berskala nasional karena harus melayani pembaca di seluruh Indonesia, bukan hanya wilayah tertentu. Jika media hanya memberitakan isu yang berkaitan dengan aktor lokal, berita tersebut hanya relevan bagi pembaca di mana aktor tersebut menjabat.

Dalam konteks Koran Tempo, kami menemukan banyak pemberitaan di rubrik Berita Utama yang berdimensi lokal. Dari 12 berita berdimensi lokal, 11 di antaranya merupakan berita yang memunculkan nama Anies. Artinya, 11 berita tersebut hanya relevan bagi pembaca di Kota Jakarta. Selain itu, Koran Tempo juga sudah memiliki rubrik Metro yang wilayah liputannya sesuai dengan 11 berita tersebut.

AHY yang menempati posisi kedua terbanyak dalam jumlah kemunculan di rubrik Berita Utama tidak kami hitung karena hanya diberitakan saat ramainya pembahasan polemik Partai Demokrat dari tanggal 2 Februari hingga 15 Maret 2021. Seluruh pemberitaan AHY di rubrik ini juga tentunya berskala nasional karena melibatkan aktor yang menjabat di lingkup pemerintah pusat atau organisasi berskala nasional.

Kemunculan Anies cukup berbeda dengan Ridwan Kamil yang mayoritas muncul dalam berita berdimensi nasional. Berita berdimensi lokal yang memunculkan nama pimpinan Jawa Barat ini hanya terjadi dalam satu berita. Idealnya, Koran Tempo memperlakukan Anies sama seperti Ridwan Kamil yaitu memunculkannya hanya jika berkaitan dengan isu yang relevan dengan pembaca luas, bukan hanya di wilayah ibu kota.

 

Membingkai Kandidat: Jurnalisme “Kebijakan” ala Tempo

Cara lain untuk mengukur imparsialitas adalah dengan memeriksa lewat cara apa berita mengenai kandidat dikemas. Dengan memeriksa pengemasan berita, kita dapat mengenali bias atau favoritisme. Dalam penelitian ini, kami menggunakan dua konsep untuk melihat pola pengemasan berita kandidat: nada berita dan bingkai berita. 

Nada pemberitaan dalam dapat dipahami sebagai atribut yang dilekatkan oleh wartawan terhadap individu kandidat maupun kebijakan atau rencana kebijakan yang diusungnya. Setidaknya ada tiga dimensi dari nada berita yakni positif, negatif, dan netral. Kita bisa mengenalinya dari kata sifat atau kata kerja yang dilekatkan pada kandidat. Pelekatan kata sifat seperti “berani”, “tegas”, atau “cerdas” menandai upaya melabeli politisi secara positif. Sebaliknya, pelekatan kata sifat seperti “lambat”, takut”, “gagal” dan seterusnya menandai nada berita negatif. Absennya kata sifat atau kata kerja positif yang dilekatkan pada individu politisi merupakan tanda sebuah berita bernada netral, dalam konteks penelitian ini itu artinya ia tidak punya tendensi “favoritisme”.

Penting dicatat di sini, nada pemberitaan dalam penelitian ini tidak diarahkan untuk melihat keseluruhan aspek pemberitaan. Andaipun satu berita secara umum berkesan negatif, jika ia tidak secara langsung memuat kata kerja dan sifat negatif yang mengiringi pernyataan atau menjadi atribut kandidat, kami tidak mengkategorikannya positif ataupun negatif.

Hasilnya, berita bernada positif maupun negatif terdeteksi sangat sedikit dalam artikel-artikel yang dipublikasikan Koran Tempo.

3. Tabel Nada Pemberitaan

Bagi kami hal ini menandai gaya jurnalisme Tempo yang lugas dan fokus pada aspek kebijakan. Kesan ini bisa dengan mudah didapatkan kala melihat artikel yang menggunakan kalimat-kalimat pendek dan sesak informasi ataupun data. Sebagaimana dapat dilihat dalam tabel di bawah, berita berbingkai kebijakan jumlahnya jauh di atas berita berbingkai human interest.

4. Tabel Bingkai Berita

Dalam konteks liputan politik, Gan, Teo, dan Benjamin (2005) berargumen bahwa penulisan berita berperspektif human interest yang fokus menciptakan emosi sedih, marah, atau simpati membawa pembaca melihat kebijakan atau dampak kebijakan dari sudut pandang psikologis dan moralitas. Dengan kata lain, evaluasi atas kebijakan didasari oleh apakah kebijakan tersebut dinilai baik atau buruk dari sudut pandang subjektif aktor yang terdampak dalam narasi berita ketimbang melihat secara objektif dampak kebijakan terhadap banyak orang dari sudut pandang ekonomi, politik, atau sosial. 

Meski dalam konteks tertentu, perspektif human interest bisa jadi positif untuk memberi “nyawa” pada data, terlalu kentalnya pendekatan semacam ini berpotensi membuat penulis berita tergelincir mengungkap hal-hal yang lebih personal mengenai pejabat pembuat kebijakan atau warga terdampak. Sebaliknya, meski terasa membosankan dibaca, bingkai kebijakan memberi kita peta masalah dan atau dampak dari sebuah kebijakan. Informasi jenis ini jauh lebih dibutuhkan untuk menilai kinerja seorang politisi dan menjadi modal penting untuk memutuskan pilihan pada pemilu kelak.

 

Kesimpulan 

Besarnya frekuensi pemberitaan Anies dibanding kandidat lain dan cakupan beritanya yang cenderung lokal (lihat Tabel 2) membuat kami sulit mengingkari adanya semacam favoritisme terhadap Anies ketimbang kandidat lain yang kami potret dalam penelitian ini. Ada dua kemungkinan di sini: bias Anies atau bias Jakarta. 

Kemungkinan pertama kami kira tidak didukung oleh data yang memadai. Temuan bahwa nada pemberitaan Anies umumnya netral dan berbingkai kebijakan tidak mendukung klaim ini. Kendati frekuensi kemunculan berita menjadi publikasi yang berpotensi meningkatkan pamor politisi, ia tidak cukup kuat untuk melandasi dugaan adanya dukungan redaksi Tempo terhadap Anies. Bias dukungan politik umumnya ditunjukkan dengan narasi berita yang positif terhadap kandidat. Data menunjukkan mayoritas berita justru bernada netral. Selama kami melakukan pemantauan atas pemberitaan-pemberitaan Koran Tempo, kami tidak melihat hal ini. Sebaliknya, meski banyak muncul, Anies dan pemerintahannya di DKI Jakarta juga banyak mendapat kritik dari Koran Tempo.

Alhasil, kami percaya masalahnya adalah bias Jakarta. Dengan kata lain, hal ini disebabkan oleh model bisnis Koran Tempo yang sangat berbasis Jakarta. Hal ini pertama-tama bisa kita lihat dari basis pembacanya yang mayoritas berasal dari Jakarta (28,3%). Jumlah pembaca Koran Tempo yang berasal dari Jakarta jauh lebih banyak dibanding pembaca di Surabaya dan Yogyakarta yang menempati posisi kedua (9,7 persen) dan ketiga (7,2 persen). Umum diketahui, karakteristik pembaca akan mendorong munculnya berita yang melayani “kebutuhan pembaca”. 

Situasi ini, masih ditambah lagi dengan fakta bahwa Koran Tempo beroperasi dari Jakarta dan wartawannya mayoritas berasal atau berdomisili di Jakarta. Kepentingan ekonomi dan bias Individu wartawan yang berdomisili di Jakarta pada gilirannya akan menempatkan siapa pun Gubernur DKI Jakarta menjadi aktor pemberitaan favorit. Kecenderungan ini tidak ditemukan pada Koran Tempo saja. Studi kami sebelumnya terhadap sepuluh stasiun televisi juga menemukan bias serupa, bahkan dalam level yang lebih mengkhawatirkan. Situasi ini adalah potret dari sentralisasi media di Jakarta.

Bias, atas dasar apa pun, tak padan dengan jurnalisme. Jika Koran Tempo percaya pada prinsip media sebagai ruang publik, yang berarti mewakili sebanyak-banyaknya kelompok kepentingan masyarakat dan bukan hanya mereka yang berdaya beli di ibu kota, perubahan adalah langkah yang idealnya ditempuh.

 

*Proses pengerjaan penelitian dibantu oleh Winona Amabel dan Surya Putra Bhirawa

 

Carroll, C., McCombs, M. 2003. Agenda-setting Effects of Business News on the Public's Images and Opinions about Major Corporations. Corp Reputation Rev 6: 36–46. https://doi.org/10.1057/palgrave.crr.1540188

Moy, P., Tewksbury, D., & Rinke, E. M. 2016. Agenda-Setting, Priming, and Framing. In K. B. Jensen, R. T. Craig, J. D. Pooley, & E. W. Rothenbuhler (Eds.), The International Encyclopedia of Communication Theory and Philosophy. John Wiley & Sons, Ltd.. https://doi.org/10.1002/9781118766804.wbiect266

Gan, Faith., Teo, Joo L. 2005. Framing the Battle for the White House: A Comparison of Two National Newspapers’ Coverage of the 2000 United States Presidential Election. Gazette: The International Journal for Communication Studies, Vol.67 (5): 441-467. DOI: 10.1177/0016549205056052