Covid-19 datang membawa krisis baru bagi keselamatan jurnalis. Belum lama ini, terdapat lebih dari lima puluh pekerja media di Surabaya yang dinyatakan positif Covid-19. Dua karyawan TVRI pun meninggal setelah terdeteksi positif corona, menyusul dua wartawan lain yang berpulang pada Maret lalu

Aliansi Jurnalis Indonesia sempat mengeluarkan protokol keselamatan dan kecaman atas penyelenggaraan konferensi pers tatap muka. Pewarta Foto Indonesia pun mendesak perusahaan media untuk memberi perlindungan pada jurnalisnya. Namun pada akhirnya, kepatuhan atas protokol dan perlindungan ini bergantung pada seberapa disiplin perusahaan media menerapkannya.

Dihadapkan pada situasi ini, kami memutuskan untuk mencari tahu seberapa jauh media menerapkan protokol kesehatan bagi pekerjanya. 

Riset kecil ini dilakukan dengan memantau liputan televisi, medium yang memungkinkan pengamatan visual atas interaksi wartawan. Dengan demikian, riset ini perlu dibaca dengan catatan bahwa ia tidak mengevaluasi penerapan protokol secara komprehensif, melainkan merupakan potret dari praktik beberapa stasiun yang bisa disaksikan di televisi.

Selain melihat perlindungan jurnalis dari penularan virus, riset ini juga memperlihatkan bagaimana protokol Covid-19 dilaksanakan dan dikomunikasikan dalam berita. Televisi memiliki posisi yang unik di sini. Selain merupakan media massa yang penetrasinya paling luas di Indonesia, televisi juga medium dengan unsur visual yang kuat. Ia bisa menjadi rujukan warga dalam mengetahui bagaimana protokol Covid-19 dijalankan sehari-hari. 

Dengan demikian, kemunculan narasumber—terutama yang berasal dari pejabat negara—menjadi penting untuk diamati. Karena perannya yang vital dalam menangani pandemi, penerapan protokol Covid-19 oleh pejabat negara di layar kaca menjadi rujukan warga tentang bagaimana “contoh” yang baik.

Dari sini kami merumuskan dua pertanyaan yang hendak dijawab dalam penelitian ini: (1) Sejauh apa reporter televisi menerapkan protokol keamanan Covid-19 dalam liputan? dan, (2) Sejauh apa narasumber berita, lebih spesifiknya narasumber dari kalangan pejabat negara, menerapkan protokol keamanan Covid-19?

Bagaimana Kami Membuat Riset Ini?

Kami mengambil sampel dari program berita yang tayang pada jam prime time (18:00-20:00). Kami mengambil program berita dari enam stasiun televisi terestrial, yang tayang pada 19 Mei 2020 (Berita Satu, Kompas TV, Metro TV, TV One, dan TVRI[1]) dan 26 Mei 2020 (CNN[2]). 

Dari sampel ini, kami mencatat 63 judul berita. Untuk memilah data yang relevan, kami hanya mengambil berita “tatap muka”, yakni apabila wartawan dan awak media lainnya memiliki kontak langsung dengan narasumber dan keduanya berada di tempat yang sama, seperti liputan langsung atau konferensi pers. Berita “non-tatap muka”, seperti teleconference, cuplikan video, atau acara dari stasiun TV lain, tidak menjadi data yang dianalisis. 

Dari pemilahan awal ini, terdapat 22 judul berita yang merupakan berita “non-tatap muka”. Angka ini merupakan 34,9% dari total berita yang terkumpul. Sementara itu, berita “tatap muka” meliputi 41 judul berita atau 65,1% dari berita yang terkumpul. CNN adalah stasiun televisi yang paling banyak membuat berita tatap muka yakni empat belas judul berita, disusul oleh Metro TV yang menurunkan sembilan judul berita.

Dari 41 judul berita tersebut, reporter muncul di layar sebanyak 32 kali, sementara narasumber muncul sebanyak 57 kali. Kemunculan reporter memiliki jumlah yang lebih sedikit dari total berita tatap muka karena reporter tak selalu muncul di layar dalam setiap berita. Kemunculan ini dihitung ketika mikrofon, tangan, dan wajah wartawan terlihat di layar. Sementara itu, jumlah narasumber jauh lebih banyak dari total judul berita tatap muka karena setiap judul berita bisa memiliki lebih dari satu narasumber. 

Dalam menilai penerapan protokol keamanan Covid-19, kami mengadopsi beberapa poin yang tertuang dalam pedoman UNICEF untuk reporter. Poin yang kami ambil adalah: 1.) memakai masker dengan benar, 2.) menjaga jarak, 3.) memakai sarung tangan, dan 4.) memakai pengaman mikrofon. 

Seluruh poin ini kami terapkan untuk mengukur protokol reporter, sementara untuk narasumber, kami hanya mengambil poin pertama dan kedua.

  • Memakai masker dengan benar: Apabila reporter mengenakan masker yang menutupi area hidung dan mulut dengan sempurna. Apabila maskernya disangkutkan di dagu atau dikalungkan di leher, kemunculan tersebut dianggap tidak memenuhi protokol.
  • Menjaga jarak: apabila jarak reporter dengan narasumber dan/atau jurnalis lain diperkirakan satu meter, atau seperentangan tangan. Kemunculan reporter dinilai tidak menjaga jarak apabila: reporter berdiri bersebelahan dengan narasumber dengan bahu yang hampir bersentuhan, reporter berhadapan sambil menodongkan mikrofon dengan lengan tertekuk dan tidak mengenakan mic extender, reporter terlihat berada di tengah kerumunan reporter lain yang berdempetan (biasa terjadi dalam wawancara door stop).
  • Memakai sarung tangan: apabila reporter terlihat mengenakan sarung tangan.
  • Memakai pengaman mikrofon: apabila mikrofon dilapisi penutup (cover) dan reporter menggunakan mic extender.

Temuan
 

Penerapan Protokol Keamanan reporter
 

Dalam temuan kami, tak sekali pun reporter muncul dengan memenuhi protokol keamanan secara lengkap. Bahkan, 50% dari kemunculan reporter tidak menerapkan protokol keamanan sama sekali.  Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan televisi tidak serius dalam melindungi pekerjanya dari paparan virus.  

Pemakaian masker dan menjaga jarak merupakan protokol yang paling banyak diterapkan, namun frekuensinya masih sangat rendah, hanya 31,3% dari total kemunculan wartawan. 

Sementara itu, hanya terdapat tiga kemunculan reporter yang menggunakan sarung tangan (9,4%), dan tak satu pun kemunculan reporter yang menggunakan pengamanan mikrofon. 

Hal ini tentu riskan karena Covid-19 menular terutama melalui droplet  (tetesan) yang berasal dari mulut atau hidung orang yang terinfeksi. Mikrofon bisa menjadi sarana penularan yang efektif karena virus Corona bisa bertahan di permukaan plastik dan stainless steel hingga 72 jam

Risiko ini bisa dimitigasi apabila reporter dan narasumber segera mencuci tangan sebelum dan sesudah interaksi, namun riset ini tidak mampu menjangkau praktik tersebut.

 

Penerapan Protokol Keamanan Narasumber 

Berbeda dari reporter, protokol keamanan narasumber yang kami periksa hanya meliputi dua hal: 1.) apakah narasumber memakai masker dengan benar, dan 2.) apakah narasumber menjaga jarak. Sebagaimana reporter, sebagian besar narasumber pun hanya menerapkan sebagian dari protokol Covid-19. 

Pejabat negara merupakan narasumber yang paling banyak muncul, yakni sebanyak 39 kali atau 68,4% dari total kemunculan narasumber. Sayangnya, besarnya porsi pejabat negara ini tidak diiringi penyampaian contoh protokol Covid-19 dengan baik. Hanya 23% dari kemunculan ini yang memperlihatkan pejabat negara menjaga jarak dan memakai masker dengan benar. 

Bahkan, terdapat satu kali kemunculan pejabat negara yang tidak menerapkan protokol Covid-19 sama sekali, yakni dalam liputan CNN pada 26 Mei 2020. Ironisnya, berita tersebut diberi judul “Petugas Tutup Paksa Rumah Makan Langgar PSBB”.

Dalam temuan kami, pejabat negara lebih cenderung hanya melakukan jaga jarak (43,6%) ketimbang hanya memakai masker (30,8%). Menariknya, terdapat tiga kali kemunculan pejabat negara yang mengenakan masker namun tidak menutupi mulut dan hidung secara sempurna. Para narasumber ini mengenakan masker di dagu atau dikalungkan di leher sehingga pengenaan masker mereka tidak dikategorikan pemakaian yang benar. Semua kemunculan ini tayang di CNN 26 Mei 2020. Pejabat yang melakukan hal ini adalah Kepala Dinas Kesehatan Solo, seorang anggota Kepolisian Cimahi, dan petugas Satpol PP yang telah disebut di atas.

 

Refleksi: Kegagalan Televisi dalam Melindungi dan Berkomunikasi dalam Pandemi

Dengan skala pemantauan yang kecil, riset ini tentu tidak bisa jadi dasar bagi evaluasi menyeluruh atas program televisi di sepanjang pandemi. Namun, setidaknya ada dua hal yang bisa kita garis bawahi dari temuan-temuan ini. 

Pertama, mengenai perlindungan jurnalis. Tingginya angka kemunculan reporter yang tak menjalankan protokol keamanan di layar kaca menunjukkan bahwa perusahaan televisi tidak menerapkan prosedur khusus untuk melindungi pekerjanya. 

Hal ini menambah daftar panjang kerentanan posisi jurnalis dalam situasi krisis ini. Selain ancaman tertular Covid-19, jurnalis pun rentan mengalami gejala depresi dan gangguan psikologis lainnya. Di luar kerentanan kesehatan, jurnalis pun terancam mengalami PHK sepanjang pandemi. Dalam catatan LBH Pers dan AJI Jakarta, jurnalis televisi adalah kelompok yang paling rentan mengalaminya. 

Buruknya perlindungan wartawan di masa pandemi ini menghambat kinerja pers dalam menyajikan informasi yang berkualitas bagi warga. Ditambah lagi, terdapat tren otoritarianisme dan pembungkaman pers secara global yang dipicu oleh pandemi. Pers Indonesia pun tak luput dari ancaman semacam. 

Kedua, mengenai komunikasi protokol keamanan selama pandemi. Dengan 91.751 kasus positif (per 23 Juli), grafik persebaran pandemi Covid-19 di Indonesia masih belum mencapai titik balik dan melandai. Penerapan Normal Baru, yang diharapkan dapat menjadi sekoci penyelamat perekonomian yang terdampak pandemi, justru berpotensi mendongkrak angka penularan kasus tanpa diiringi penerapan protokol keamanan yang disiplin. 

Riset ini menemukan bahwa jurnalisme televisi dan pejabat negara, yang punya andil besar dalam mengkomunikasikan protokol keamanan, gagal menjalankan fungsinya dengan baik.

Dalam pengamatan sekilas kami, hal ini mencerminkan praktik penyiaran televisi yang lebih luas. Beberapa program prime time populer, seperti Santuy Malam di Trans TV, Tukang Ojek Pengkolan Reborn di RCTI, atau Ini Talkshow di Net TV, tidak mempromosikan penggunaan masker dan jaga jarak di tayangan-tayangannya. 

Dua catatan ini merupakan pekerjaan rumah besar bagi industri televisi—dan media secara lebih umum—di sepanjang pandemi. 

 

Tim peneliti: Roy Thaniago (koordinator), Annisa Putri, Carolina Leonard

Catatan Kaki

  1. ^ Ada beberapa judul berita TVRI yang tertinggal karena kendala lambat.
  2. ^ Pada tanggal penelitian, CNN tidak menayangkan program berita pada waktu prime time. Program berita di CNN baru muncul pada jam prime time pada 26 Mei 2020.