Tewasnya enam anggota Front Pembela Islam (FPI) oleh polisi (7/12/2020) masih menyisakan pertanyaan, “apakah penembakan tersebut dapat dibenarkan secara hukum atau merupakan pelanggaran HAM?” Seiring liputan media yang masih berkembang mengikuti penemuan bukti-bukti baru, hoaks dan disinformasi justru marak di media sosial. Banyak informasi yang beredar terkait isu ini di media sosial menjadi bensin bagi polarisasi politik yang sudah lama ada.

Jujur saja, situasi ini membuat kami khawatir. Hari ini kita menghadapi banjir informasi dan setiap orang hidup dalam “bilik gemanya” masing-masing. Pemberitaan media membombardir kita dengan berbagai informasi namun acap tidak membantu kita memisahkan mana fakta dan mana sensasi. Dalam konteks hari ini, publik yang terbelah oleh kompetisi politik dan ideologi cenderung memilah fakta yang mendukung keyakinannya. Walhasil, banyak orang terombang-ambing oleh opini dari dua kubu yang bersilang pendapat: FPI dan polisi.

Dilatarbelakangi itu, kami menelusuri belantara pemberitaan dengan dua pertanyaan dalam benak. Pertama, apa yang kita tahu sejauh ini? Kedua, dengan pengetahuan itu, apa kesimpulan paling logis yang bisa kita ambil? Untuk menjawabnya, kami memantau 9 media (Tirto.id, Kompas.com, majalah Tempo, Tempo.co, koran Kompas, CNN, BBC, The Jakarta Post, dan Kumparan.com) dan mewawancarai 2 wartawan yang memiliki rekam jejak dalam liputan investigasi. Berikut adalah hasilnya.

 

Apa yang Kita Tahu Sejauh Ini?

Untuk menjawab pertanyaan di atas pertama-tama kita perlu memetakan klaim versi polisi dan FPI mengenai peristiwa 7 Desember. Lantas, kita mesti melihat sejauh apa hal ini didukung oleh fakta-fakta yang beredar di media. 

Kami memisahkan informasi berikut sumbernya dan membaginya ke dalam dua kategori. Pertama, informasi yang mendukung klaim FPI. Kedua, yang mendukung klaim polisi. Informasi yang kami sajikan di bawah adalah hasil penelusuran atas laporan-laporan yang sudah dipublikasikan media. Penting dipahami bahwa infografik di bawah tidak berasal dari penelusuran langsung. Sejauh yang kami temukan dalam pemberitaan, informasi yang beredar mengenai peristiwa ini umumnya didominasi oleh sumber-sumber yang berasal dari kepolisian ataupun FPI. Kebanyakan pemberitaan berangkat dari asumsi maupun indikasi yang belum sepenuhnya dibuktikan secara meyakinkan. Misalnya, informasi soal CCTV yang diklaim polisi dimiliki oleh mereka. Sejauh ini, belum ada liputan yang coba menggali lebih dalam terkait hal tersebut. Hal yang sama juga berlaku bagi informasi soal “jelaga mesiu” yang katanya terdapat di tangan korban. Belum ada wawancara terhadap ahli forensik yang langsung melakukan otopsi terhadap tubuh korban.

Pengujian atas informasi menjadi sangat penting mengingat kebanyakan informasi disampaikan oleh pihak kepolisian, padahal anggota merekalah yang melakukan penembakan. Lebih-lebih, keterangan polisi berubah setelah rekonstruksi peristiwa dilakukan pada 14 Desember (lihat bagian pada tabel di atas yang kami tandai merah). Inkonsistensi pernyataan semacam itu semestinya cukup menjadi alasan untuk skeptis terhadap keterangan-keterangan polisi. Di sisi lain, FPI sendiri adalah organisasi yang jelas punya rekam jejak kekerasan. Klaim bahwa anggota mereka tidak membawa senjata api maupun senjata tajam juga perlu disikapi secara skeptis oleh media.

Majalah Tempo adalah yang paling baik dalam menguji klaim polisi maupun FPI. Kami sarikan beberapa temuan penting liputan Tempo edisi 12 Desember 2020 pada tabel di bawah.

Informasi Sumber
Sebagian besar luka tembak yang terdapat di tubuh jenazah berada di dada kiri. Foto jenazah hasil penelusuran Tempo
Warna hitam pada tubuh jenazah mengindikasikan tembakan dilakukan dari jarak dekat. Ade Firmansyah, dokter ahli forensik RS Cipto Mangunkusumo
Senjata yang diklaim polisi digunakan laskar FPI untuk menyerang anggota mereka (kaliber 38 mm) merupakan buatan Amerika, meski ada juga yang berkaliber 9 mm yang beredar di Indonesia. Sekjen Persatuan Penembak Indonesia
Enam personel FPI dimasukkan ke mobil Land Cruiser Hitam. Dua saksi melihat keenamnya masih hidup. Empat masih bisa berjalan sendiri dan dua orang terlihat pincang. Dua saksi anonim

 


Sulit ditampik bahwa dari laporan tersebut keterangan FPI lebih mendekati kebenaran ketimbang keterangan polisi. Meski demikian, kita perlu berhati-hati untuk mengambil kesimpulan. Pasalnya, kami menilai empat poin di atas perlu dilihat secara kritis. Berikut beberapa catatan kami.

Pertama, terkait keterangan ahli senjata tentang senjata yang diklaim digunakan FPI. Keterangan bahwa senjata tersebut buatan Amerika bukanlah bukti bahwa anggota FPI tidak memilikinya. Informasi ini tidak bisa dipakai untuk membatalkan klaim polisi bahwa terjadi tembak-menembak di antara mereka dengan anggota FPI yang kemudian tewas.

Kedua, terkait luka di dada kiri dan bekas luka yang menunjukkan tembakan jarak dekat. Bagi kami, informasi ini adalah temuan menarik yang semestinya mendorong penelusuran lebih lanjut. Ia tidak bisa menjadi bukti adanya pembunuhan tidak berlandaskan hukum. 

Ketiga, temuan paling penting dari investigasi Tempo adalah pernyataan saksi yang menyebut enam orang anggota FPI masih hidup setelah aksi kejar-kejaran dengan polisi. Jika pernyataan ini benar, seluruh klaim polisi bisa dipastikan runtuh. Sayangnya, kita tidak tahu narasumber yang memberikan informasi ini kepada Tempo. Identitas mereka disamarkan mungkin karena alasan keamanan. 

 

Apa Kata Mereka? 

Untuk menggali pandangan yang lebih kaya terhadap data ini, kami mewawancarai wartawan yang berpengalaman dalam liputan-liputan investigasi. Pertama, pertanyaan kami, apa yang bisa disimpulkan dari berbagai informasi yang berserak di media? Lantas dari sudut pandang jurnalis, apa informasi yang kurang dari laporan media (jika ada) untuk bisa mengambil kesimpulan apa yang sesungguhnya terjadi dengan enam anggota FPI?

Kami berdiskusi dengan Andreas Harsono dari Yayasan Pantau dan Fahri Salam (redaktur Tirto.id) pada Jumat 18 Desember. Diskusi difokuskan pada informasi yang dipublikasikan majalah Tempo. Pertimbangan kami, Tempo menghadirkan banyak informasi baru dan tak sekadar mengutip pernyatan FPI dan polisi sebagaimana media lain.

Terkait liputan Tempo, Andreas membuat dua catatan. Pertama, penggunaan sumber anonim Tempo tak memenuhi tujuh kriteria sumber anonim. Ini membuat pembaca tak bisa menaksir derajat kepercayaan mereka terhadap liputan Tempo. Ia menganggap sumber anonim sebaiknya hanya digunakan untuk kasus kekerasan seksual dengan minimal dua sumber tangan pertama, biasanya termasuk korban. Saksi semestinya bisa diyakinkan untuk memberikan keterangan dengan nama lengkap. Kedua, Andreas menilai bahwa penggunaan narasumber ahli forensik dan senjata untuk menilai apa yang terjadi dalam peristiwa tersebut juga tidak memenuhi syarat sumber anonim. Narasumber yang diminta keterangan karena pengalamannya haruslah orang di lingkar kedua, sudah bertemu dengan sumber tangan pertama. Andreas menilai liputan Tempo ini tidak bisa menjadi pegangan bersikap untuk publik. Baginya, hal yang paling masuk akal dilakukan publik kini adalah “wait and see” sampai ada informasi yang jauh lebih bisa diandalkan.

Pandangan yang kurang-lebih sama disampaikan oleh Fahri Salam. Secara umum, liputan media masih berkutat pada saksi maupun sumber-sumber di lingkar luar kejadian. Hal ini menyebabkan pengungkapan yang dilakukan oleh banyak media tidak cukup menyakinkan kita. Namun, terlepas kelemahannya, ia beranggapan upaya Tempo maupun Narasi untuk mendekati sumber-sumber di lingkar pertama perlu dianggap sebagai langkah maju. Mata Najwa episode 17 Desember silam menayangkan secara eksklusif rekaman suara detik-detik terakhir laskar FPI sebelum tewas. Baginya, dalam situasi pandemi yang membatasi mobilitas jurnalis, apa yang dilakukan Tempo dan Narasi merupakan hal paling cepat yang bisa dilakukan.

Fahri menambahkan, investigasi mestinya terus menelusuri saksi-saksi di sekitar tempat kejadian dan empat anggota FPI yang lolos dari peristiwa tersebut. Kendati demikian, ia sendiri tidak yakin dalam situasi pandemi yang serba terbatas ini, media memiliki kemampuan untuk melakukannya. “Media di Indonesia tidak siap untuk mengungkap kasus sesulit ini, termasuk Tirto, media tempat saya bekerja”, pungkasnya. 

Kami dari Tim Pantau Remotivi setuju dengan Andreas Harsono dan Fahri Salam. Pemberitaan media belum memberi kita informasi yang cukup kuat untuk menilai apa yang sesungguhnya terjadi. Karenanya, sikap paling masuk akal hari ini adalah menahan diri dari membuat kesimpulan prematur sampai ada informasi yang cukup lengkap.

 

Pengumpulan data untuk tulisan ini dibantu oleh Ann Putri dan Rangga Naviul Wafi